LISTRIK KOTA PALU MULAI BERULAH LAGI……KENAPA ?

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

Oleh : Avatara Himada#


Ketika pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Palu banyak warga Kota Palu dengan kesan menyindir bertanya “mau jadi apa Kota Palu kalau dipimpin oleh seorang artis ?”. Tentu pertanyaan-pertanyaan seperti ini lahir dari paradigma apriori yang meragukan kemampuan wakil walikota Palu untuk bisa bekerja mensejahterakan masyarakat Kota Palu.

Dikenal ada dua paradigma berpikir dalam merespon sebuah keadaan yakni Paradigma Apriori dan Paradigma Aposteriori. Paradigma berpikir apriori selalu merespon keadaan dengan mendahulukan sebuah prasangka bahkan biasanya prasangka negatif. Sebutlah pernyataan masyarakat Kota Palu yang meragukan kemampuan Wakil Walikota Palu Sigit Purnomo (Pasha) padahal Walikota dan wakilnya baru saja dilantik.

Sementara Paradigma Aposteriori selalu menunggu bukti kemudian memberikan kesimpulan. Jadi Paradigma Aposteriori benar-benar empiris dengan tidak langsung memberikan kesimpulan apalagi memberikan prasangka atas keadaan. Sehingga soal kemampuan Wakil Walikota Palu Sigit Purnomo belum bisa dinilai baik atau tidak sebelum semua program dibuat dan mereka diberikan kesempatan untuk bekerja.

Tentu sebagai warga Kota Palu kita sangat berharap Walikota dan Wakil Walikota Palu bisa bekerja dengan baik dengan segala program yang dibuat bersama instansi dibawah koordinator Walikota bisa berkeja demi masyarakat Kota Palu. Target kesejahteraan dan kebahagiaan sebenarnya sudah terwujud didalam visi-misi calon-calon Walikota dan Wakil Walikota tatkala masa Pilkada Kota Palu. Tatkala Walikota dan Wakil Walikota telah terpilih dan telah dilantik. Maka tinggal bagaimana pekerjaan mereka yang ditunggu warga Kota Palu.

Pekerjaan Walikota dan Wakil Walikota sekarang mulai diuji dengan terpenuhnya kebutuhan listrik masyarakat Kota Palu yang sekarang mulai berulah lagi. Setelah sekitar dua tahun lalu listrik Kota Palu nyala-mati-nyala-mati bagai lampu diskotik yang membuat alat-alat elektronika menjadi empot-empotan untuk aktif dan kepala warga Kota Palu khususnya ibu-ibu juga ikut berdenyut-denyut. Sekarang aksi listrik nyala-mati-nyala-mati mulai lagi.

Listrik sudah bagian penting dalam hidup kita, artinya jika listrik mati maka setengah hidup kita juga padam. Kita menjadi tidak bisa berbuat apa-apa, dari kantor-kantor, usaha-usaha sampai kerumah-rumah tangga menjadi lumpuh. Begitu teragantungnya hidup kita dengan listrik akibat hidup kita betul-betul dininabobokan moderinitas.

Nah….sekarang perlulah kita bertanya apa yang akan dikerjakan oleh Walikota dan Wakilnya menyelesaikan problem listrik Kota Palu ? Tentu persoalan listrik tidak bisa selesai dengan marah-marah di saat upacara bendara atau selesai dengan foto-foto selfi dengan ibu-ibu. Persoalan listrik tentu tidak mudah dan harus diselesaikan denga berbagai stakeholder yang berhubungan langsung dengan listrik.

Kami menunggu kerjamu wahai Walikota dan Wakil Wakilkota…..


# Warga Kota Palu

baca juga teror pembusur di kota palu. sulawesi tengah

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares