MENUJU LOYALITAS ORGANISASI

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

Mengapa sebuah organisasi selalu mengandrungi kata *loyalitas*. Jawabanya ada di depan mata dan terpampang dengan jelas. Karna sebuah organisasi tak akan mau kehilangan kadernya. Itulah kenapa kata loyalitas terlalu akrab di telinga kita.

Coba bayangkan bagaimana sebuah organisasi tanpa loyalitas anggotanya ?. (mimpi buruk bagi ketua)

Namun dalam beberapa hal. Organisasi dan hilangnya loyalitas anggota di pengaruhi oleh beberapa faktor. Meskipun secara konseptual tak lepas dari peran pimpinan organisasi tersebut.

Ada organisasi yang memiliki banyak anggota namun dalam partisipasinya baik itu sumbangan pemikiran atau kinerjanya terbilang kurang. Sebagai contoh ; Bayangkan jika sebuah rapat yang di hadiri banyak anggota namun dalam sumbangsih pemikiran boleh di katakan hasil pemikiran 5 atau 6 orang. Itupun hasil dari debat habis-habisan. *Seperti yang lainnya hanya sporter di tribun masing-masing, dengan ngantuk sebagai teriakannya*

Bandingkan dengan organisasi yang hanya memiliki sedikit anggota, namun melahirkan sumbangsih pemikiran yang positif terhadap lembaga, sehingga melahirkan kegiatan yang pro aktif. Paling tidak inilah mengapa orang-orang yang bergelut dalam organisasi mempunyai daya saing yang tinggi.

Namun bagaimana jika sebuah organisasi hanya memiliki sedikit anggota. Namun loyal, cerdas, kreatif dan aktif. ?

Inilah titik penting organisasi, mendidik dan memacu intelektual anggotanya hingga mempunyai daya pakai lebih di masyarakat nanti. Proses belajar individu dalam lingkungan organisasi mau tidak mau akan membentuk karakter sebuah organsasi tersebut.

Organisasi notabene digerakkan oleh manusia dalam melaksanakan aktifitas yang sejalan dengan rencana, sasaran dan target sesuai GBHO haruslah tidak mengesamping beberapa hal berikut, demi tercapainya visi-misi :

  1. Informasi dan komunikasi.

dalam perkebangan sebuah organisasi, Informasi dan komunikasi terbilang hal cukup urgent. Informasi dan komunikasi yang baik dari tiap-tiap anggota demi mengedeppankan sebuah rentetan interaksi yang baik antara setiap anggota organisasi akan membuat kelancaran pergerakan organisasi. Seorang anggota misalnya, ketika memiliki masalah dalam hal pencarian dana, maka laporan terhadap masalah tersebut haruslah disampaikan ke bendahara yang selanjutnya bendahara akan melaporkannya kepada ketua organisasi, bukan ke sekertaris organisasi. Jalur komunikasi yang baik dan benar akan mempermudah dalam hal pertanggung jawaban, ketika interaksi antara anggota organisasi telah berjalan sesuai, maka permintaan pertanggungjawaban, siapa yang bertanggungjawab dan bagaimana bentuk pertanggungjawabannya akan mudah dilakukan ketika terjadi keganjalan mengenai suatu pekerjaan, sebagai sebuah alat dalam mencapai tujuan, organisasi haruslah berjalan secara efektif dan efisien. Hal ini berguna untuk memajukan kehidupan manusia ke arah yang lebih baik.

2) Sistem.

Untuk dapat mencapai tujuan dari organisasi dibutuhkan sebuah sistem yang mempuni hal ini berkaitan erat dengan pembagian kerja tiap-tiap anggota dan juga dibutuhkan komunikasi yang baik dari para anggotanya. Hal ini berfungsi untuk memaksimalkan semua potensi yang dimiliki setiap individu organisasi dan memanfaatkan setiap peluang-peluang yang mungkin muncul sepanjang perjalanan menuju tujuan yang ingin dicapai. Setiap organisasi memiliki struktur, struktur tersebut terdiri dari jabatan-jabatan yang ada di dalam organisasi.

Dan jabatan tersebut haruslah merujuk pada skill atau potensi dari pemanggku jabatan tersebut. Pembagian kerja pun haruslah merujuk pada jabatan apa yang ditempati seorang anggota. Bendahara organisasi misalnya, sebagai jabatan yang berlandaskan pada perputaran keuangan organisasi, maka jelaslah bahwa seorang bendahara bertugas dalam hal keuangan, mulai dari pencarian dana hingga pencatatan penggunaan dana oleh organisasi. Tentunya hal ini juga harus di langsungkan dengan sebuah sistem terbuka. Tanpa ada yang di selip, karna dalam masalah anggaran ini cenderung ruet dan ulet untuk di bicarakan.

3) Nilai kebersamaan yang didukung strategi manajemen.

Sebagai sebuah organisasi yang selalu menggodok anggota-anggotanya demi pencapaian tujuan baik itu tujuan untuk visi misi organisasi ataupun dalam tujuan pribadi, menempa diri untuk lebih mempuni dalam masyarakat luas, nilai-nilai kebersamaan rasa solidaritas serta keselarasan jiwa dari tiap-tiap anggota perlu di maksimalkan. Maksudnya, organisasi di jalankan oleh-orang-orang, yang di dalamnya mempunyai karakter dan watak yang berbeda. Di samping itu karna adanya pembentukan pembagian kerja serta jatah tugas yang berbeda pada tiap anggotanya akan menghasilkan emosi yang berbeda pula.

sebagai contoh. seseorang yang bergelut dalam bidang yang mengharuskan ia untuk selalu berada dalam titik fokus saat bekerja seperti mengatur administrasi, manajemen keuangan atau di bidang lainnya yang mengharuskan seseorang berada dalam zona fokusnya sendiri. Orang tersebut mungkin saja akan berbeda emosinya dengan pekerjaan bidang lainnya yang tidak terlalu rumit dan tidak membuat otak panas saaat bekerja.

Saat seperti inilah komunikasi dan pengertian dari semua orang di dalamnya di uji.

Karna walaupun sebaik apapun sistem dan manajemen sebuah organisasi, namun tanpa adanya nilai-nilai kebersamaan tiap-tiap angotanya, serta saling memahami karakter tiap-tiap anggota, tentunya hal itu akan sia-sia. Bahkan mungkin akan kehilangan anggota lain karna kurangnya nilai kebersamaan dan saling mengerti dari tiap anggota, dan saat seperti inilah peran ketua sangat di butuhkan untuk meminimalisir kemungkinan terburuk.

4) Umpan balik untuk individu sehingga mampu mendorong belajar.

Sudah menjadi hal lumrah dalam sebuah organisasi, bahwa beberapa anggota hanya sekedar ikut untuk sebuah seragam, mencari nama atau hal negatif lainnya. Untuk itulah bujukan untuk belajar dari kawan-kawan seorganisasi sangat di butuhkan.

Karna berorganisasi bertujuan untuk menempa diri individu, mencari pengalaman, menggali potensi sembari mempersiapkan diri di lingkungan yang lebih luas. Di samping itu, dapat meningkatkan nilai kebersamaan organisasi juga secara tidak langsung telah mengedepankan loyalitas. Yang akan berdampak baik pada organisasi.

5) Menghindari konflik individu dan atau kelompok.

Menghindari konflik individu dan atau kelompok dalam situasi internal sebuah organisasi tidak akan terlalu sulit jika hal-hal diatas telah terlaksana dengan baik. Namun pada bagian inilah seorang ketua memiliki peran yang sangat besar dalam mewadahi segala argumen, keluh kesah, serta yang terpenting pemahaman karakter tiap anggota sangat terasa jelas dalam penyelesaian konflik.

Namun dalam beberapa organisasi yang selali mengedepankan nilai-nilai gemeinschaft atau kekeluargaan, cenderung dapat meredam konflik tersebut, karna segala hal di lakukan secara kolektif dan dengan manajemen khas kekeluargaan yang tinggi. Seperti tegur sapa dan saling megerti seperti kakak beradik. Hingga cenderung dapat menghasilkan loyalitas tanpa batas dari seluruh anggota.

Sebagai penutup, beberapa hal yang saya rasa perlu di perhatikan, bagi saya selama proses penempaan diri dalam organisasi, loyalitas menjadi hal yang utama. Dan kinerja tiap-tiap anggota tidak sepenuhnya lepas dari peran ketua sebagai pemangku tanggung jawab yang paling tinggi. Tentunya Peran dan tanggung jawab serta komunikasi yang baik di samping menjadi pendukung kelangsungan organisasi juga sebagai cikal pembentukan budaya gemeinscahaft, sehingga beberapa orang menggap kawan-kawan organisasinya juga adalah keluarganya.


Untuk kawan yang gimbal. yang tanpa sadar selalu setia memberi kesan…

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

Satu tanggapan untuk “MENUJU LOYALITAS ORGANISASI

  • April 15, 2016 pada 5:34 pm
    Permalink

    konsep tentang loyalitas, komitmen dan konsisten itu ibaratnya seperti suatu contoh kehidupan yang tak perlu diperdebatkan tetapi perlu diketahui dan dijadikan contoh kehidupan dan dijalani, dan saya berharap semua anggota HMS bisa begitu.
    dalam organisasi memang tingkat integritas perlu dijaga. (ada betulnya juga dalam kesatuan itu perlu sama seperti yang dimaksut EPICUROS). “saya sedag berproses”.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares