WANITA (DALAM) INTELEJENSI SUMUR KASUR & DAPUR

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

Terdengar familiar dan tak jarang muncul dengan parodi jenaka bila mendengar tiga kata (sambung) di atas yang biasanya di ucapkan dengan sedikit jenaka, bahwa “kaum wanita tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, toh ujung-ujungnya Cuma sampai di Sumur-kasur-dapur”. Seakan itu telah menjadi herarki yang wajib dimiliki wanita.

Namun sadar atau tidak, sedikit banyak wanita Indonesia telah kehilangan kewanitaanya. Kehilangan potensi sumur-kasur-dapur tidaklah lagi menjadi momok menakutkan di era yang serba gampang ini. Betapa tidak. Londry telah mengganti peran wanita di minggu pagi, jelaslah sumur telah kehilanggan candaan para wanita. Bahkan asap di dapur keluarga sudah terlalu jarang mengepul, dan kasur empuk jarang di tiduri.

Walau pada dasarnya sebagaian orang menganggap bahwa tiga kata tersebut merupakan wujud penghinaan yang nyata bagi kaum wanita, namun hal itulah yang setidaknya berperan penting guna mendorong pergerakan kaum hawa pada titik kekuasaan dalam pergaulan masyarakat, dalam kungkungan jeruji wacana Kesetaraan Gender.

Namun tidakkah terfikirkan secara logis, bahwa hal itulah yang harusnya tidak perlu di hilangkan dari kebiasaan yang harusnya membanggakan namun pada kenyataan yang mengherankan.

Singkat dalam tiga peryataan yang menuai kontroversi yang berekor pada kondisi anomali setingkat kisruh susu antara “beruang-naga-dan sapi”.

Padahal bukan pengertian seperti itu yang dimaksud…

Setelah berfikir lebih jauh dalam kedalaman fikiran, serta candaan dari kompasiana. terciptalah sebuah falsafah penjelasan, (mungkin seperti pembenaran). Terlalu dangkal memang jika memahami tiga falsafah turun-temurun itu dalam konteks yang sempit, seakan-akan menempatkan perempuan hanya pada sektor domestik saja.

————————————————————————————————————

Sumur

Mungkin lebih tepatnya air. Yang merupakan symbol kebersihan dan kebaikan, para istri di harapkan untukselalu dapap menjaga kebersihan, kesucian dan kebaikan dalam segala hal. Baik itu kebersihan badan, kebersihan pakaian, kebersihan tempat tinggal, kebersihan peralatan rumah tangga, serta kesuciannya. Secara teknis, kegiatan memberihkan rumah, mencuci baju, membersihkan peralatan dapur, memberihkan perlengkapan rumah tangga, atau bisa dikerjakan oleh pembantu rumah tangga atau pihak lain yang dikontrak untuk melakukan hal-hal tersebut. Tidak harus istri yang melakukannya.

Dapur

Konon, banyak suami senang dimanjakan istri dengan masakan istimewa kesukaannya. Istri tidak harus memasak setiap hari, karena hal ini tergantung situasi dan kondisi, apalagi di era kesetaraan gender saat ini. Para suami tidaklah boleh menuntut untuk selalu mengharuskan istrinya memasak setiap hari. Apalagi isri yang memiliki banyak anak atau pemangku kekuasaan. Namun tetaplah, memasak adalah bagian dari khidmah kepada suami. Dan hendaknya para suami mengerti dan memahami situasi dan kondisi istri

Masakan istri berasa cinta dan kasih sayang. Masakan istri berasa penghormatan, pemuliaan dan pelayanan yang bermula dari dasar hati. Sedangkan masakan pembatu, terkait dengan gaji. Masakan catering, terkait dengan nilai kontrak bulanan yang disepakati. Hendaknya ada hari-hari tertentu dimana istri memanjakan suami dengan memasak makanan kesukaan sang suami. Sediakan waktu khusus untuk menyenangkan cita rasa dan selera masakan anak dan suami. (Seperti nasi goreng telur, berwarna orange dengan taburan bawang merah.)

walau secara logis (entah logis karena apa), kaum prialah yang menyediakan logistik bahan bakar pengepulan dapur.

Kasur

Walau terasa kaku di bicarakan dan alot di cerna akal sehat namun kasur mungkin bahasa halus yang di gunakan orang tua dulu untuk menyimbolkan “sex”. Istri harus pandai melayani suami untuk urusan ranjang. Urusan yang satu ini bersifat sangat privat. Tidak boleh ada pembantu, atau mesin, atau pihak yang dikontrak untuk melayani suami di ranjang.

Ini adalah tugas khusus istri yang tidak boleh diwakilkan kepada siapapun atau kepada alat apapun. Hanya istri yang boleh dan berhak melakukannya.

Dan pada akhirnya, terciptalah sebuah kesimpulan, bahwa wanita di anugrai kemampuan multisking sekaligus multitalent yang menjadikan wanita layak mendaat penghargaan tanpa tanda jasa. Dan tibalah pada penghujung kata, “buat apa menjadi sarjana jika rumah hanya di urus oleh orang yang bahkan tidak lulus SD”.

klik disini untuk menuju halaman utama

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares