Belum Ada Judul. Seperti Iwan Fals

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

Ku tahu kalian dimana, kutahu kalian sedang sangat sadar. Namun bisakah tulisan ini menggetarkan lagi sayap yang ku kira telah kaku terjerat ego pralambang “Sang senior”?. -Willy.
bingung memulai kata dari mana, memilah kata apa yang pas untuk tertulis di pojok kiri atas untuk awal lembaran. Yang ku tahu hanyalah bahwa aku hampir mati kehausan setelah lelah berjalan mengelilingi Fakultas, maklum lagi puasa, wkwkwkwk. Dari ujung ke ujung akhirnya ku sadari, bahwa akan ada ribuan mahasiswa baru yang akan tertipu oleh keajaiban yang telah tertata rapi bak sulap kelinci keluar dari topi. Datang berbelok dari kelokan jalan kampus, mata yang polos ala SMA kampong di suguhi oleh pemandangan super megah bertuliskan DEK-ANAT.

maaf, namun beberapa kali bangunan itu ku sebut menara gading. dan yang kuyakini, bahwa pemimpin tak boleh jauh dari rakyatnya. dan menara gading adalah pemisah yang nyata.

Masuk dari tempat parkiran tua yang lapuk pemandangan menakjubkan terlihat, sebuah situs kuno, berisi jutaan cerita, pengorbanan, cita-cita, bahkan cinta juga harapan. Tertulis lantang di depannya FISIP PARK, namun Teronggok dengan kasihan hampir di tengah-tengah sekertariat lembaga mahasiswa yang katanya sumber perlawanan, pergerakan dan perjuangan mahasiswa.
Di belakangnya berdiri sombong bangunan megah yang tak ingin di gunakan sesuai koodratnya. Terlalu megah untuk di jadikan sebuah tempat pemilihan, bahkan hampir-hampir tak di izinkan. Di bagian utara terdapat lagi sebuah bangunan indah, cantik dan menggiurkan. Entah apa namanya, katanya itu adalah tempat para mahasiswa berkumpul nantinya. Yahhhh…. Itulah dia. Tempat para mahasiswa akan memilih pimpinan eksekutifnya sendiri. Katanya fungsinya bukan hanya itu, berguna pula katannya untuk kegiatan lain. Dan tentu saja akan ada banyak antusias dari mahasiswa, walau panas terik matahari yang hampir tak pernah kasihan walau kulit sudah legam. Entah mau bilang apa lagi. Sudah jadi.

Dipojok belakang sisi kananya, di tempat banyak rerumputan yang tak pernah hilang, tertulis sepenggal kalimat dari lagu Iwan Fals, entah siapa yang tertulis dan kapan di tuliskan, yang jelas tak banyak lagi yang pernah melihat. Setidaknya ada beberapa pelajaran yang kudapat di sore hari yang gerimis ini. Ialah bahwa Kacang goreng lebih terdengar akrab daripada pengeras suara.
“Satu sangkar dari besi, rantai kasar pada hati, tidak merubah Rajawali menjadi burung nuri”.

apalah daya, hancur terintimidasi, hanya tersisa sedikit yang berani. Karna tempat mereka memberontak, berbicara masalah-masalah yang menjadi masalah sudah cukup jauh dan juga membosankan.

katanya ia di hilangkan karena dosanya sudah terlanjur besar untuk seukuran “bangunan tua”. mengganggu kegiatan belajar mahasiswa fisip yang jeli akan masalah sosial.menuntut akan keadilan saat suara-suara tak lagi di dengar, maka haruskah bungkam suara-suara itu. apalah dayamu wahai bangunan tua, kau adalah titik kumpul para pendekar dengan pamflet, tempat istirahat para demonstran. harusnya kejadian yang menimpanya menjadi pelajaran untuk semua bangunan.

Memasuki daerah perkuliahan, terlihat iring-iringan pawai mahasiswa membawa kursi, entah kursi dari rumahnya atau dari ruangan sebelah hasil menciri terang terangan. Siapa yang tahu, siapa yang mengira akan jadi ironi. Gedung terbesar di daerah itu terlalu besar disebut kelas, lebih pantas disebut aula.
Katanya untuk kebaikan mahasiswa sih. Tapi sepertinnya kekurangan gedung dan kelengkapan belajar bukanlah prioritas utama. Malah berdirilah sebuah bangunan megah, lebih mewah dari gedung-gedng tua di sekelilingnya, namun tak tahu apa gunanya.
Tak ada yang membungkam. Namun mengapa seperti diam.
Malu sih sebenarnya, mendengar adik-adik yang bahkan belum lulus ujian SBNPTN mengatakan, “ini fakultas, atau apa?”. Yah. Mau di apa. Begini lah dek nasib ya nasib.
Kita mau bagaimana lagi. Setiap ada aksi mahasiswa, mahasiswanya di suruh dialog dulu, namun saat dalam dialog, apa yang terjadi ?. yang namanya dialog ya harus dengar pendapat. kok malah interfensi sihh…. ??? sang orang tua berkata seakan-akan inilah yang terbaik untuk anak-anaknya, namun tanpa pernah sedikitpun berbicara pada anak-anaknya.
Lah, terus bagaimana jika orang tuanya mencoba menghampiri, namun anaknya yang lari, bagimana tidak, datang dengan langkah lantang nan perkasa yang bahkan suara sepatunya terdengar saja sudah garang. sepertinya harus jelas pembeda antara perkasa, raksasa dan penguasa.
Bagaimana pimpinan fakultasnya dan mahasiwanya mau akrab kalau bertemu dan berbicara hanya saat demonstrasi.
Seandainya di dunia ini ada pemimpin yang berani dan mau membawa sebungkus kacang goreng dan duduk di tengah orang-orang, berbicara selayakna ayah dan anak, dan tentu saja. Kiamatpun terjadi. Karna tidak mungkin lagi itu semua terjadi.
Banyak pemimpin berkata, “Negara butuh orang-orang yang mencari solusi, bukan yang memaki-maki”. Lahhh…. Banyak juga pemimpin yang lupa kalau solusi hanya akan di dapatkan dari duduk bersama. Saling berbenah diri tanpa saling merugikan. Yah. Itu jika kita berbicara konteks pemimpin. Namun jika kita berbicara tentang orang tua dan anak ?. beda cerita,…………….. sama saja…. Wkwkwkwk…Anggaplah fiktif belaka. seperti duduk di pojok biru bangku demokrasi.

Oh ia. Aku mengenal seorang orang tua disini. Orangnya pemaharah, parasnya sangar, tidak lembut sama sekali, bagiku orang itu ditugaskan khusus untuk berperang melawan mahasiwa, jika bertemu dengannya jelas takkan lama, yang kalau marah, matanya merah seperti saga, seperti jendral perang. Dan aku salah satu orang yang sangat membencinya, ia juga pernah berkata “kalau kamu mau benci sama saya silahkan, itu hakmu”, kira-kira seperti itu, maka jadilah banyak orang yang tidak menyukainya. namun sekarang ku sadari, bahwa “aku”, tidak…. “setiap mahasiswa” yang pernah berhadapan dengannya, harus bersiap berterimakasih. Karna sadar atau tidak, ia berperan penting dalam membentuk mental kerupuk menjadi baja dan mengajarkan bahwa diam itu tak berarti. Terima kasih pak. “Hormat saya.” walau masa anda hampir berakhir, anda di kenang dengan baik. Dan masih banyak yang perlu di pelajari darimu.

awas di penjara kalau memaki, unek-unek ngak pa pa kayaknya.

“karena inspirasi anak-muda ada yang bahaya.” mata-rajawali.com


 

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares