Aliansi Gerakan Mahasiswa Peduli Pendidikan : cabut Uang Kuliah Tunggal

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

Palu 16 september. 2016 Aliansi Gerakan Mahasiswa Peduli Pendidikan. Melakukan demonstrasi menuntut di cabutnya Uang Kuliah Tunggal (UKT) di depan kampus Universitas Tadulako. Di samping itu mereka juga menuntut untuk lebih jelasnya transparansi penyaluran anggaran uang kuliah tunggal. Karena dinilai bahwa fasilitas kampus tidak memenuhi kebutuhan mahasiswa. Melalui kenaikan UKT ini juga memberi efek pada masyarakat Indonesia yang tidak mengenyam pendidikan secara merata, seingga orang miskin susah mengenyam pendidikan. Jadi pendidikan tidak lagi mengarah pada mencerdaskan kehidupan bangsa. Akan tetapi pendidikan kali ini sengaja di setting sedemikian rupa untuk melegitimasi para pemodal asing yang bekerja sama dengan pihak akademisi untuk memperlancar eksploitasi sumberdaya alam dan sumber daya manusianya.

Kualitas kampus juga di nilai sudah jauh dari esensinya yang berorientasi memanusiakan manusia, akan tetapi penilaian kampus yang ideal dilihat dari megahnya infrastruktur, agar supaya para calon mahasiswa tertarik untuk masuk kedalam. Sehingga transaksi anggaran semakin banyak dan lancar. Kemudian mahasiswa juga di paksakan untuk cepat selesai sehigga terjadi pengangguran-pengangguran yang terdidik.

Menurut mahasiswa, bahwa masih banyak orang cerdas yang tidak dapat mengenyam pendidikan dikarenakan biaya yang tinggi. Kampus Tidak lagi melihat kualitas mahasiswa, fasilitas, pelayanan dosen dan pegawai-pegawainya, tetapi seberapa banyak jumlah mahasiswa yang masuk ke kampus kemudian menjadi bahan industri pendidikan yang di keruk setiap tahun. Di lain sisi terjadi ketidak seimbangan antara jumlah kebutuhan mahasiswa dalam hal infrastruktur akademisi, dengan jumlah membludaknya mahasiswanya. Sehinggamempengaruhi tidak efektifnya skill mahasiswa setelah selesai, dal akhirnya menjadi penonton di negeri sendiri. Lalu mana janji pemerintah yang katanya peduli pendidikan ?

Akibatnya ekspektasi akan terbangunnya Bangsa yang cerdas seperti amanat UUD 1945 dengan tatanan masyarakat yang maju secarea ekonomi, politik dan kebudayaan yang tercermin dalam penghidupan yang adil, sejahtera dan berdaulat, sampai saat ini belum bisa terwujud. Pendidikanlah yang mampu mewujudkan ekspektasi di atas. Hanya dengan pendidikanlah Bangsa yang cerdas dapat terwujud. Pendidikan yang seperti apa? Tentu saja pendidikan gratis, ilmiah dan demokratis. Pendidikan yang seperti ini belumlah terjadi di Indonesia. Kita bisa melihatnya dengan sistem pendidikan di Indonesia yang memang ditujukan untuk mencari profit semata. Pendidikan di Indonesia sudah menjadi sebuah komoditi yang harus diperjual belikan.

Al-anfal.

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares