ASAL USUL PEKIKAN “RAKYAT BERSATU, TAK BISA DI KALAHKAN”

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

Kibarkan lagi benderamu. ikat di tiang-tiang pancang.

Suarakan dengan lantang di telinga penguasa yang tuli bahwa jika

“Rakyat bersatu, tak bisa di kalahkan”.

Anda termasuk orang-orang yang senang demonstrasi ?

Jika iya anda pasti sering mendengar pekikan “Rakyat bersatu, tak bisa dikalahkan!”. Pekikan ini sering diteriakkan lantang di berbagai aksi-aksi demonstrasi atau aksi-aksi protes.

Tahukah anda darimana asal-muasal pekikan itu ?

“Rakyat bersatu ! ! !,

tak bisa dikalahkan ! ! !

pekikan ini berasal dari sebuah lagu perjuangan di Amerika latin: “¡El pueblo unido, jamás será vencido!” yang jika di terjemahkan dalam bahasa inggris menjadi: “The people united will never be defeated”. Dalam bahasa Indonesia berarti “rakyat bersatu, tak bisa di kalahkan”.

Lagu “¡El pueblo unido, jamás será vencido!” ini diciptakan oleh seorang komponis revolusioner Chile, Sergio Ortega. Yang juga mendukung gerakan sosialis. Dan anggota sebuah gerakan kebudayaan bernama Nueva Canción Chilena yang berarti nyanyian baru.

Lagu tersebut kemudian di populerkan oleh salah satu group music asal chili. Dan terus dinyanyikan dalam berbagai bahasa, apalagi saat adanya demonstrasi. Pekikan tersebut seakan telah menjadi pekikan perang yang selalu membangkitkan rasa perjuangan dalam membela rakyat.

Tak hanya sampai disitu, Sergio juga kerap menciptakan lagu-lagu revolusioner, dan uniknya, lagu tersebut selalu jadi nada wajib bagi para demonstran. Selepas pekikan rakyat bersatu, tak bisa di kalahkan tadi. Pada tahun 1971 pada kampanya Salvador Allende ia menciptakan lagu revolusioner berjudul venceremos. Yang berarti “rakyat pasti menang”. Salvador Allende adalah seorang sosialis yang menang pemilu di chili.

Nueva Canción sendiri berkontribusi besar dalam memenangkan Allende di pemilu Chile 1970. Para musisi kerakyatan Chile mengusung baliho besar bertuliskan: tidak ada Revolusi tanpa lagu-lagu. Yahh… hal ini sekali lagi mengibaratkan bahwa seni telah telah memiliki bagian khusus dalam pergerakan perlawanan dari dulu hingga kini.

Namun setelah Allende dikudeta oleh Augusto Pinochet di tahun 1973, musisi kerakyatan turut dikejar-kejar oleh aparat Gestapo rezim Pinochet. di kejar-kejar, di hilangkan bahkan ada yang dibunuh, seperti musisi Victor Jara dan Pablo Neruda.

Sama seperti di Indonesia, sebut saja, widji thukul yang puisi-puisinya selalu menggairahkan semangat perlawanan. Namun ia dihilangkan namun selalu terkenang, betapa seni telah menjadi bagian dari perjuangan.

Lebih lanjut Di Portugis, di masa Revolusi Bunga tahun 1974, musisi revolusioner menciptakan lagu berjudul Portugal Ressuscitado. Lagu yang ditulis oleh Pedro Osario dan Jose Caslos Ary dos Santos itu punya lirik: Agora o Povo Unido nunca mais será vencido (sekarang Rakyat bersatu tidak bisa dikalahkan).

Lalu apa yang kalian tunggu ?

Sudah merdekakah rakyat hari ini ?

Atau merdeka diatas sebuah kertas, selebihnya di todong hutang luar negeri ?

Kibarkan lagi benderamu. ikat di tiang-tiang pancang. Suarakan dengan lantang di telinga penguasa yang tuli bahwa “Rakyat bersatu, tak bisa di kalahkan”.

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares