BENARKAH SEKOLAH MENCERDASKAN ? (anekdot di saung lama)

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

Dari kompasiana .com dalam salah satu judul artikelnya menyatakan bahwa dari 1.000.000 anak sekolah dasar hanya 69 orang yang dapat lolos ke perguruan tinggi.

Dalam artikel yang sama pula dinyatakan bahwa setiap menit ada 4 siswa yang putus sekolah. Dari angka tersebut, bisakah anda memperkirakan, berapa persen penduduk indonesia yang dapat menduduki bangku kuliah.

Dunia pendidikan Indonesia seperti telah menjelma seperti perlombaan sel sperma menjebol sel telur. Hanya ada 1 sel dari sekian juta yang berhak menjadi manusia, dan hanya ada 1 manusia dari sekian juta manusia berhak dan layak mendapat pendidikan. Hanya ada 1 pemimpin dari dari sekian banyak calon pemimpin, Selebihnya menjadi budak yang di perbudak.

Kembali ke topik.

Dalam sejarah panjangnya, mulai dari juara bertahan bulu tangkis, juara angkat berat, sampai final bola dengan malaysia dalam SEA Games, Indonesia telah mencatatkan rekor terbaiknya.

Wow,,, jika saja prestasi indonesia di bidang “pencerdasan kehidupan bangsa” dapat terealisasi dengan baik. Mungkin saja negara ini telah meluncurkan badan antariksa sendiri. Namun meskipun indonesia telah kehilangan kesempatan untuk menciptakan badan antariksanya sendiri, sebagai anak bangsa yang telah di doktirin dari balita di bawah bendera merah putih, kami tetap berbangga dan berbesar hati, walaupun beberapa kecerdasan manusia lokal tidak di terima di negeri sendiri.

Lalu bagaimana bisa, ??? (lihat tanda tanyanya).

Bagaimana mungkin negeri indah di zambrud khatulistiwa, yang petaninya tanam padi makan beras, tanah subur tanam sayur dan memancing ikan di lautan ini. Dapat predikat miskin ????

Dan kemudia dari pada itu, untuk menciptakan harmonisasi yang adem ayem, maka terviptalah sebuah pembahasan yang mengkambing hitamkan para koruptor.

Dari berbagai sumber yang kami dapatkan, negara ini memiliki beragam nomor urut. Sebagai contoh.

Antikorupsi.org Indonesia berada di peringkat 20.

Tempo.co. Indonesia berada pada peringkat 88

Dream.co.id Indonesia berada pada peringkat 107.

seperti ajang sepakbola dalam piala dunia, setiap Negara ikut berpartisipasi di dalamnya namun hanya bertahan selama 4 tahun setelah itu di perebutkan kembali oleh tim-tim Negara besar seperti brazil, jerman, uruguai, spanyol, italia dan argentina. Aduhh,, ngak nyambung lagi…

Sungguh pembukaan yang gemilang untuk catatan krisis moral kemanusiaan.

Itulah Indonesia. Kitalah Indonesia.

Namun mengapa ???,,,

Namun tetap saja, korupsi tetaplah menjadi cacatan yang buruk bagi Negara yang katanya tongkat kayu dan batunya jadi tanaman.

Mungkinkah semua ini karena kesalahan jeweran guru semenjak di Sekolah ?.

Mungkin saja !.

saat lulus sekolah-jadi pejabat-berkuasa, hingga mantan murid tersebut mengalami gangguan telinga total, lantas tidak mendengar kalau namanya di teriaki “ban*sat”.

atau karena takut di jewer, di cubit di hukum hormat pada tiang bendera murid menyangkal dan berbohong. karena telah mencontek pada ujian sehari. Padahal sekolah dan belajarnya tiap hari. Namun tetaplah nilai rapor adalah nilai komulatif dari tingkat moral para siswa. Walaupun blo’on dalam kelas dan saat di tanya pura-pura ngerti saat pelajaran matematika. Atau ujian lempar tip-x sembunyi kertas jawaban – pinjam pulpen bonus nomor satu.

Hingga saat mejadi pak bos akhirnya mereka sadar, kerja tiap hari asal-asalan saja, nanti tiba saat evaluasi barulah kerja extream. Toh Cuma sehari. Namun ada yang hilang. Rapor moralnya mana ???.

Namun semua berubah saat negara api menyerang, eh salah…. Saat peraturan mulai di tegakkan. Tak ada lagi jeweran pak guru demi terhindarnya gangguan telinga. Tak ada lagi hubungan antara perilaku di sekolah dengan ujian nasional. Walaupun siswa adalah pembegal, kalau ujiannya bagus ya lulus tak perduli ia memiliki surat keterangan baik atau tidak dar kantor polisi. Dan tentu saja, semua itu demi terciptanya evaluasi yang baik.

Dan mungkinkah tercipta dunia yang kita idam-idamkan. ?????

Negara tanpa evaluasi moral ???

Ataukah negara telah menjadikan sekolah sebagai alat ideologisasi, atas nama pembangunan. Yang hampir 12 jam siswa di doktin full abiss. Oleh seorang guru atau dosen sebagai alat doktrinisasi pemerintah. hingga jadilah seorang manusia yang bernama soe hok gie, yang khusus di lahirkan untuk bekata “Guru bukanlah dewa. Dan siswa bukan. Kerbai yang di cocok hidungnya”

Sekian. Dan terimakasih yang banyak sekali. Karena rela membaca sesuatu yang tidak penting-penting banget.

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares