FISIP PARK, RIWAYATMU KINI.

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

Menanam jagung di kebun kita

Pada sore kali ini, di temani orang-orang yang bermain volly yang entah datang dari penjuru mana, kami akan sedikit menyentil salah satu tempat khusus sekaligus sakral di area Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tadulako. Uhhh… woww…

Ini bukan sebuah protes apalagi demonstrasi yang katanya sih tidak tidak efisien dalam menyelesaikan masalah. Kali ini kami hanya sekedar memberi tahu suatu hal yang mungkin sudah lama di nanti-nanti penjelasannya. Dan tidak di sangka-sangka kehancurannya. para pimpinan fakultas jangan marah dulu dong…

img_2055
fisip park tepat beradi di belakang pemain volly

Langsung langsung ke topik mungkin yaa.

Ehm, ehm…..  FISIP PARK.

Yahh, yang ada di area Fisip Untad. Tempat yang telah di tumbuhi rumput ilalang dan hampir bersaing tingginya dengan rumput di bukit bundaran STQ,  hanya bedanya karena di lingkungan akademik, jadi tidak enak di pandang. Jika bapak pimpinan fakultas ada niat merekonstruksi silahkan, pasti jadi lebih bagus. Karena pasti akan di manfaatkan menjadi tempat diskusi…. Mahasiswa Fisip untad kan doyannya diskusi.

Apalagi kalau kasus kampus sendiri, pasti jadi bahan pendiskusian rutin sampai berminggu-minggu….

Tapi, setelah melalui bulan-bulan yang panjag pasca pembongkaran, belum terlihat gerak-gerik kalau tempat itu akan di alih fungsi menjadi,,,, emmm…. Kalau tidak salah jadi taman, atau apalah, yang jelas Apakah nasib bangunan itu memang seperti itu  ???

Mungkin jika di biarkan lebih lama lagi, ide-ide gila dari mahasiswa kreatif muncul dengan tata-cara yang luar biasa spektakuler dan tidak di sangka-sangka, bisa saja mereka menanam jagung di kebun kita. Eh…. Menanam jagung di fisipark. Wah, sepertinya bisa jadi lebih efisien. Yah. Siapa tahu saja ada mahasiswa yang suka berkebun. Tinggal masukkan proosal untuk mengadakan bibitnya. Kan lumayan hasil jagungnya di makan ramai-ramai sore hari. Sambil mengakrabkan diri tanpa ada pembeda “si atas dan si bawah”, lumayankan, bercengkrama tanpa ada marah-marah, bicara dari hati ke hati pula,  daripada terbit berita demonstrasi, kan malu. Sekalilagi, tidak bermaksud menggurui. tolong di catat.

Namun bukankah baik jika kita saling mengenal satu sama lain, saling mendengar keluhan dan masalah dari berbagai pihak agar tidak membengkak di hati, menjelma jadi penyakit dan di bawa mati.

Sebenarnya bisa sih bertemu dan berbicara langsung, tapi apa daya, mental tak sampai, telinga terlanjur takut mendengar langkah sepatu tuan pemimpin, mata lesu saat engkau ada di depan mata, serta mulut dan nurani saling membohongi. Maka dari itu, harap maklum. Karena Kelas sosial sudah terbagi, mahasiswa sudah hidup dalam ketakutan. Mau di apa lagi, sudah terjadi, jagung sudah jadi bubur jagung. Loh. ?, bubur jagung ? . (Tinggal menunggu sambal terasi. Mari makan… wkwkwk)

Kalau sudah jadi bubur, siapa yang mau makan ?

Maaf, siapa yang akan disalahkan ?.

Mungkinkah pemerintah daerah fakultas ? ataukah masyarakat daerah fakultas ?

Bagaimana jika kita mengkambing hitamkan “sesuatu”.

Wahai kau “sesuatu”, yang telah membatasi kami untuk saling berbagi, terkutuklah engkau…

Loh, kok, sesuatu ???

Atau mungkin ego, cuaca, kontur tanah atau apalah . . .  yang jelas kita semua benar. Benar-benar berjarak. Bahkan tegur sapa pun harus terpaksa mungkin yah.

Tapi tak di perbaiki mungkin tak apa kali yah ? sudah biasa kok.

Kan kalau ada jagung lumayan, lumayan spektakuler mungkin.

Tinggalkan komentar…!!!

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares