JANGAN PRIVATISASI PANTAI KAMI

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

(Ancaman Privatisasi Pantai Kampung Nelayan)”

Privatisasi merupakan salah satu dari ciri Kapitalisme. Privatisasi adalah proses pengalihan hak milik dari milik bersama atau milik umum menjadi milik pribadi atau milik perseorangan. Misalnya hutan pada awalnya merupakan miliki bersama dan dipergunakan bersama oleh masyarakat lalu dibeli atau disewa menjadilah hutan itu milik perseorangan atau miliki pribadi orang tertentu, akibatnya tidak bisa sembarang orang lagi mengelolah hasil hutan atau mempergunakan atau mengambil kayu dari hutan itu.

Biasanya privatisasi berhubungan dengan pembelian atau sewa menyewa milik publik oleh orang tertentu atau perusahaan tertentu. Akibat dari privatisasi masyarakat kecil atau rakyat yang tak punya uang tidak bisa mempergunakan atau menikmati milik publik. Para pelaku privatisasi adalah para orang-orang kaya atau para pemodal berduit banyak.

Sementara pertanyaan mengapa milik publik bisa menjadi milik pribadi, hutan yang milik publik bisa menjadi hutan milik pribadi, maka yang bertanggungjawab atas tindakan penjualan atau sewa menyewa itu adalah pemerintah yang diwakili para pejabat yang merasa bahwa negara ini milik mereka, sehinga mereka dengan mudah menjual atau menyewakannya.  Jadi proses privatisasi adalah kejahatan antara para pemegang modal dengan para pejabat penjual tanah air.

Kota Palu yang disetting menjadi kota Industri atau kota Maju semakin lama semakin terancam dengan proses privatisasi dimana-mana. Sebutlah Pantai Talise yang biasa disebut orang Palu dengan sebutan “Pantai Kampung Nelayan”, saat ini orang masih beramai-ramai menikmatinya dengan mandi di laut atau piknik atau libur keluarga dengan gratis, sebab pantai itu masih menjadi publik.

Akan tetapi jika Pantai Kampung Nelayan itu dianggap oleh para pemodal bisa mendatangkan keuntungan berupa uang atau pendapatan, maka sudah bisa dipastikan Pantai Kampung Nelayan akan dibeli lalu dijadikan tempat wisata yang berbayar, inilah yang disebut dengan proses privatisasi.

Jika proses privatisasi sudah terjadi maka kita tidak bisa menikmati laut dan pantai secara gratis lagi, akan tetapi sudah harus membayar dengan jumlah tertentu, hari ini kita mandi laut dengan gratis akan tetapi  proses privatisasi akan membuat kita mandi laut tapi dengan membayar terlebih dahulu.

Jika semua hal dalam hidup ini diawali dengan proses membayar terlebih dahulu maka menanglah meraka para pemilik duit yang banyak dan meranalah mereka yang tak punya uang sama sekali, para rakyat miskin akan menjadi penonton di kampung sendiri dalam hal apa saja.

Laut itu seharusnya milik publik, milik semua orang, semua orang bisa menikmatinya. Harus tetap seperti itu, sampai kapan pun……Tolak Privatisasi pantai dan laut di Teluk Palu.

Avatara Himada

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares