Kedaulatan Petani Adalah Harga Mati : Himasos Untad

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

Petani kau usir dari tanahnya, petani kau perlakukan seperti binatang, apakah kau tak sadar, bahwa kau makan dari tangan kecil dan hasil keringat siapa”

SERUAN UNTUK KITA SEMUA, PERINGATAN HARI TANI NASIONAL !!!

            Pernyataan diatas menyinggung kita, terutama yang masih menyandarkan hidupnya pada PETANI. Momentum peringatan Hari Tani Nasional adalah salah satu upaya untuk merebut dan memperjuangkan hak petani, karena kadaulatan petani adalah harga mati. Secara Makro, negara ini akan lumpuh dan hancur jika tak ada yang namanya petani, oleh karena itu sekali lagi kita menyuarakan kedaulatan petani harus di perjuangkan.

Tentunya perjuangan-perjuangan itu, melalui sinergitas semua unsur terkhusus bagi “mahasiswa,” yang sampai detik masih mendedikasikan totalitas perjuangan bagi kaum mayoritas yang termarjinalkan yakni kaum tani. Secara tegas, momentum peringatan Hari Tani Nasional tidak hanya sebagai eksistensial perorangan maupun kelompok atau hanya sekedar ceremonial semata, melainkan sebuah bagian dari gerakan sosial bertajuk “Tanah Untuk Rakyat”.

            Menurut hemat saya, petani saat ini masih dalam keadaan yang gawat, seperti menghadapi benturan-benturan yang sangat keras, perampasan tanah masih terjadi di daerah-daerah, tindakan kriminalisasi, intimidasi, represif dan kata-kata yang bersinonim dengan proses dehumanisasi tersebut, petani harus berhadapan dengan negara yang lebih mengutamakan profit dan koorporasi bermental borjuasi.

            Bertepatan tanggal 24 september sebagai Hari Tani Nasional, HIMASOS FISIP UNTAD mencoba memperingati Hari kebesaran petani nasional tersebut dengan melakukan aksi damai “Panggung Petani” di bahu jalan taman GOR Kota Palu.  Besar Harapan Kita semua agar masyarakat luas bisa merespon dan terlibat aktif dalam isu-isu ketimpangan sosial salah satunya masalah agraria yang tidak berkesudahan di negeri ini. Kita berharap agar aksi “Panggung Petani”  dapat membuka mata hati para pengurus negara yang ada di pusat dan di daerah, agar segera menyelesaikan konflik-konflik agraria dan menghentikan tindakan represif pada petani yang tengah perjuangkan haknya.

Oleh : Chairul Dani

(Mahasiswa Sosiologi Fisip Untad)

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares