MEMBACA DAN BERCINTALAH DENGAN SUKARELA

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

“Bisa saja hari ini anda sedang sangat benar. Bisa pula anda sedang sangat salah”

Jika cinta tak memerlukan alasan untuk tumbuh dan bersemi di hati hingga menjadi adat sehari-hari yang berujung pada sebuah kata “selamat-pagi-sayang” setelah subuh menghilang. Juga saling percaya dan mengerti pada cintanya, serta menerima apa adanya dirinya, niscaya, itulah cinta yang sukarela.

Namun sayang, membaca tak pernah sekalipun demikian. Butuh berbagai macam motivasi, dorongan, keikhlasan, keinginan pengorbanan, bahkan paksaan jika perlu. Namun sebenarnya simple jika yang di lakukan hanyalah. “melakukan, tanpa alasan”. Membacalah, dengan sukarela. Seperti kau jatuh cinta tanpa alasan.

Meskipun membaca punya beragam versi. Mulai dari membaca buku, membaca tanda alam, gerak tubuh, membaca garis tangan, membaca takdir, membaca HATI . . . dll,,,, dst,,,, dsb…. Namun kali ini kami hanya membahas tentang buku, cinta dan mudah mudahan sampai pada pesta. Seperti kata Sok Hok Gie, bahwa mahasiswa itu sempurna dengan Cinta, Buku dan pesta. Seakan ia terlahirkan hanyalah untuk membagi kata itu pada dunia.

Seperti sekolah yang bagai sebuah candu untuk terus menerus mengharuskan kita duduk diam dan mendengar. Membaca dan bercinta lebih dan kurangnya punya banyak cerita bagi penikmatnya. Membaca dan bercinta punya sebuah hubungan yang intim sekaligus tak berhubungan sama sekali. Namun apakah yang dapat mempersatukan keduanya ??

Jika rene deskrater yang menganut paham filsafat rasionalis dan menempatkan dirinya untuk selalu meragu begitu pula dengan membaca, tak dengan mudah meletakkan kepercayaan begitu saja untuk mencerna bait-bait katanya. Hingga satu satunya hal yang tidak di ragukan lagi kebenarannya ialah bahwa “anda sedang ragu-ragu”.

Seperti anda membac artikel ini, “percayakah anda jika membaca dan bercinta punya kesamaan ?”. jika anda sedang ragu akan kesamaan itu, maka anda dan saya sedang berada dalam satu garis lurus yang sama. Bahwa kita sedang sama-sama ragu.

Lalu bagaimana keraguan dapat melahirkan sesuatu yang benar jika kebenaran yang kita temukan dari keraguan adalah kebenaran yang masih di ragukan kebenarannya ?.

Lalu apakah manusia bisa mendapatkn kebenaran yang sejati ?

Jika di tinjau dari agama, benarkah manusia bisa menggunakan nalar manusianya yang sesungguhnya makhluk terbatas untuk menemukan itu ?.

Rene deskrates beranggapan bahwa jika sesuatu itu tidak dapat di rasakan dengan panca indra atau berada di luar batas rasional maka sesuatu itu tidak benar-benar ada. Lalu bagaimana dengan tuhan. Benarkah tuhan itu nyata atau benar-benar ada ?. karena “nyata” dan “ada” itu dua hal yang berbeda.

Mungkin benar jika berbicara dari pandangan cinta pada Illahi.

Lalu bagaimana dengan cinta dan buku ?. sudahkan anda melupakan pembahasan ini. Karena pembaca cenderung menyukai basa basi hingga melupakan inti.

Jika saja anda membaca dengan keragu-raguan, maka benarkah yang ada baca itu adalah kebenaran ?.

Jika buku yang anda baca tidak sesuai dengan logika anda. ataubisa saja buku yang anda baca itu “benar-benar salah” bahkan mungkin “sangat sangat benar”. Anggaplah hari ini, anda yang benar.

Kembali pada buku dan cintalah lagi yang membawa para filsuf dan para tokoh teory yang anda kagumi dan hafal teory serta kata-kata mereka sampai hari ini. Lewat bukulah fikiran-fikiran liar mereka tercatat, dan lewat cintalah anda membaca kembali diri mereka. Dan Membacalah dengan sukarela. Dan bercintalah dengan bijaksana.

Tinggalkan komentar

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares