Cerita Cinta Para Pendemo

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

Sesungguhnya kami dihadapkan pada ribuan pertanyaan tentang cinta, demonstrasi, Ibu pertiwi juga pasal 28 UUD 1945.

Satu pertanyaan bodoh yang selalu di lontarkan manusia ialah cinta, sepertinya cinta sudah menjadi topik hangat yang dibicarakan Mata-rajawali.com. Cinta telah bertransformasi menjadi sesuatu yang lain, merasuk kedalam nalar manusia dan menciptakan sebuah bentuk eksistensi baru. Semua itu berawal dari sesuatu yang di sebut cinta. mencintai Tuhan, mencintai keadilan, mencintai manusia, mencintai Ibu pertiwi dan mencintai cinta.

Timbul Satu pertanyaan khusus di benak kami dan bisakah anda menjawab hal ini;

mengapa manusia berkata bahwa cinta adalah sesuatu yang berada di luar nalar manusia?.

Jika cinta memang berada di luar nalar manusia, apakah berarti bahwa manusia tidak memahami Cinta? dan jika manusia tidak memahami Cinta lalu kemana harus mencari referensi?

Referensi apa yang di pakai pujangga hingga mengatakan bahwa cinta itu buta, cinta itu kasih sayang, dan cinta itu perbuatan?.

Apakah pertanyaan tadi mengandung makna filosofis?

Berhubung pula kami bukan pujangga atau filsuf, maka Kami akan setuju-setuju saja dengan jawaban standar yang tenar abad ini; bahwa bahwa cinta itu perbuatan, walaupun kata cinta bagi sebagaian orang itu luas, atau dalam ilmu matematika berarti “tak terdefinisikan”, namun kami hanya mencoba bermain dengan kata-kata agar kami, juga anda lebih dekat dengan cinta. Dan tidak asal ngaur.

Sekiranya anda yang baru saja melangsungkan aksi demonstrasi di jalanan, entah terkait isu apapun atau hanya untuk merayakan hari besar, dalam konsep artikel ini, kami sepakat. Bahwa “demonstrasi adalah bentuk rasa cinta dan kasih sayang pada tanah air”. Dan di pertegas lagi oleh seorang kawan kami yang saat mengharumkan nama daerah malah di telantarkan, dengan singkat kata ia menjelaskan bahwa; cinta itu seperti protes. Yang bermuara dari perasaan sayang. Hal ini dikatakan terang-terangan di depan ibundanya.

Berangkat dari sebuah pertanyaan. “Apa yang mendasari pilihan individu, yang kita sebut “bebas” hingga sampai pada fase dimana pilihan itu tidak lagi dibatasi atau ditentukan oleh serangkaian sistem yang mengatur secara kolektif kehidupan kemanusiaan?”.

Dari semua ideologi yang membatasinya, penciptaan blok, permusuhan, pemusnahan, serta carut marut dunia politik dan kemahasiswaan. Juga tak lepas dari rasa memiliki, rasa ingin membela, rasa ingin memperbaiki, rasa ingin mempertahankan dan keinginan memperjuangkan. Semua itu hanya memiliki satu sumber motivasi yang tersisa. Yaitu rasa Cinta.

Lalu bagaimana cinta dapat memberikan motivasi, dan bagaimana pula bentuk kecintaan para demonstran terhadap Negerinya. Cinta adalah salah satu dari sekumpulan kosa kata kita yang bekerja melampaui batas dan tak terikat hanya pada jenis kelamin, tapi juga mengekspresikan emosi pada segala bentuk ketersinggungan dalam kehidupan manusia. Sesungguhnya kami dihadapkan pada ribuan pertanyaan tentang cinta, demonstrasi, anarkisme, kolektifitas, senjata, Ibu pertiwi juga pasal 28 UUD 1945 yang serta merta terpikir begitu saja. Percayalah, semua itu berhubungan.

Jika teriakan dalam demonstrasi adalah simbolisasi dari protes. Maka protes adalah kata lain dari teguran serta rasa tidak suka dan perasaan itu hanya dialami oleh sekelumit jiwa yang sedang terzalimi rasa cintanya terhadap kemanusiaan, dalam bahasa sangsekerta yang berkiblat moderenitas ke kinian biasa disebut kasmaran. Yang merupakan tindakan sebelum prosesi sakral cinta-mencintai.

Jika ini salah, maka berkomentarlah menurut anda di kolom komentar.

Ini adalah ironi, antara cinta di tolak atau di terima. Barisan demonstrasi menuntut kebijakan politik, maka pembuat aturan politiklah yang harusnya ada. Berbicara atau berdiskusi. Namun pada kenyataannya, hal yang harusnya terjadi, tidak pernah terjadi, luluh lantah hati para demonstran, aparat penegak hukum maju bertameng tahan peluru. Apa daya papan pamflet harus dengan rela jadi pelapis dada.

Tak habis disitu, caci maki berkoar ria karena politik itu sama saja teori umbar janji, akibatnya polisi yang harus terima menjadi sasaran, tidak salah apa-apa malah menjadi lawan tanding barisan aksi, dengan terpaksa mereka berlapang dada dengan kata-kata anjing, babi, setan dan Kata-kata mengutuk lainya harus mereka kunyak 33x, walaupun secara rasional, diukur dari level senjata, gas air mata, water canon, peluru karet VS pamflet. Pamfletlah yang hampir menang.

Jika sudah seperti itu, dalam konsep ini maka aparat penegak hukum sekiranya haruslah lebih jeli dalam memilah siapa yang anarkis, meringis dan menangis. Harus kita akui, ibu pertiwi sedang sakit hati, negerinya sesak karena korupsi pelayan negeri. Dan penegur yang sedang menegur pelayan-pelayan Negara di bangku kekuasaannya harus rela patok harga, bahwa “korupsi harus mati, harga mati”.

Namun dari sisi positifnya, apalagi yang dapat menyatukan gelanggang demonstrasi dengan aparat penegak hukumnya selain rasa cinta pada negerinya?. Walaupun keduanya berbeda dalam konsep ini. Siapa tahu saja ada benih cinta antara kedua kubu yang harusnya bukan musuh itu. Karena Jika cinta mulai dilarang, disetujui karena keberpihakan dan kekuasaan, maka benih-benih siti nurbaya baru akan terlahir dari ibu pertiwi. Jika mereka saling mencintai biarkan mereka melangsungkan rasa cintanya. Jika pendapat demikian adalah hasih dari konsilidasi hasil pertemuan dua sijoli dari kubu berbeda, maka alasan paling masuk akal diduniapun tidak lagi berguna.

lalu apa lagi yang harus dilakukan jika opini tidak lagi didengar?. Selain protes!. kepolisian tidak boleh diragukan lagi, orang tuli tidak akan bisa menjadi polisi, namun untuk menjadi politisi?. Diteriaki di depan kantor mewahnya tak mungkin tak terdengar?.

Sudah sangat gamblang kami kemukakan, bahwa bukan aparat, water canon, gas air mata, barikade perisai, pagar kawat atau pansernya yang seharusnya menghalau barisan demonstrasi, tapi orang-orang yang berada dibelakang aparat tersebutlah yang harusnya berhadapan langsung dengan barisan demonstrasi tersebut. berbicara dari mata-kemata, dari hati-kehati hingga pemerintah dan rakyatnya saling cinta-mencintai aagr taka da lagi korupsi, kolusi, nepotisme dan reklamasi yang merugikan orang banyak.

Bukankah kita inginkan Negara yang damai, Negara yang saling cinta-mencintai, harmonis, taat KB, tidak rawan banjir, Negara dimana orang-orangnya tdak buang sampah sembarangan sampai BAB disembarang tempat. Lalu apakah Negara seperti itu diciptakan dengan sistem peperangan?. Hal ini seakan memiliki kait mengait yang sulit dipahami, sama halnya seperti cinta adalah kekuatan supranatural, irasional, tidak dapat dimengerti, di luar inidividu, mengekang dan memaksa, (bukan pengertian sistem). Namun mengguasai seluruh pribadi masyarakat Indonesia.

Hal-hal semacam inilah yang membuat kita semua, anda dan saya yang mencintai ibu pertiwi seperti kekasih sendiri, seseorang menegur orang yang ia cintai, adalah wajar-wajar saja. Khawatir karena tidak ingin sesuatu terjadi.

Lalu apakah rasa cinta itu dapat bernegosiasi dengan waktu?. bagaimana cinta dapat bernegosiasi dengan waktu?. Ataukah waktu adalah sebuah aturan, sistem tersendiri yang terpisah dari kemanusiaan, dibuat Tuhan untuk menjadi lebih otoriter?. Mari jadikan itu sebagai tanda tanya kekuasaa-Nya.

Kita hanya harus menuggu para demonstran itu memiliki kursi kekuasaan di Negara ini, sembari itu mari berdoa agar ia tidak menjilat ludahnya sendiri, berteriak berantas korupsi malah ia yang korupsi.

Dan yang paling penting ialah memastikan ketulusan cinta itu, jika cinta mamang ada dalam hati para demonstran, maka halangan dan rintang akan membuatnya semakin kuat. Bahkan segala sistem perubahan yang merugikan banyak manusia yang mencintai negerinya akan dapat terhapuskan. Semua karena cinta. Mereka tegar. Yahuuu……

Sebagai penutup. Anggap saja Ini adalah wacana reaksi karena adanya pelajaran kimia, bukan karena adanya pendemo yang masuk rumah sakit. Kami dapat mengetahui bahwa “ada aksi karena reaksi”.

Demonstran tidak akan berhamburan dijalanan, apabila ideologi kritis mereka tidak dipaksa diganti dengan ideologi kakus. Karena semewah apapun kakus walaupun dibangun berlantai sepuluh, kakus tidak akan berubah menjadi gedung BTN, kakus-tetaplah kakus, walau dicat berwarna-warni seperti gedung TK.

Maaf atikelnya cukup sampai disini, karena jika dilanjutkan, judul diatas terpaksa kami ganti dengan “Ideologi kritis vs ideologi kakus”. Dan Untuk menjaga rasa cinta terhadap fakultas yang mendidik kami. Kami tidak pernah berniat menuliskan WC yang kekurangan air, gedung tua yang tidak di bangun-bangun, gedung baru yang dinilai salah tempat, kekurangan ruangan, kerusakan kipas angin satu-satunya dalam satu ruang kelas, infocus yang layarnya kuning atau uang kelembagaan yang sepertinya hantu. Sumpah, kami tidak ingin menuliskan artikel seperti itu. Karena I Love fisip Untad.

Namun harmonis belum tentu baik-baik saja.

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares