LAKON HIDUP MEREKA SAYA KENAL, LEWAT JUDUL LAGU IWAN FALS.

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

“Abadi namamu sepanjang sejarah manusia”

‘Oi’.

Iwan fals adalah seorang legenda lama, sekaligus legenda hidup dalam jagad musik Indonesia. Mungkin anda sering kali mendengar lantunan-lantunan abadi dari maestro abadi satu ini. Semangatnya dalam menciptakan dan membangkitkan gairah kemanusiaan tidak letih. Lagu-lagunya dapat membangkitkan gairah perjuangan, lebih daripada itu, karya musik balada yang ia cipta seperti keajaiban yang abadi sampai saat ini.

Dan jika Mata-rajawali.com diberikan kesempatan meyematkan lagu-lagunya tersebut dengan kawan-kawan kami. Maka beginilah jadinya.

 

*UNTUK PENGABDI*.

Jika kami diberikan sebuah kesempatan untuk menyematkan syair lagu ini pada seseorang, kami hanya akan memilih satu manusia saja dengan wajah standar, rapat stand kaki.

Muksin. Muksin tanpa sambungan nama apapun, bukan merek tas, tenda, jaket atau bahkan sandal. Hanya muksin, titik. Manusia yang bagi kami keberadaanya hanya untuk di caci maki ini sekiranya telah pantas di tempatkan di barisan para pengabdi. Mengapa harus dia dari ribuan manusia yang rela berkorban demi mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus menciptakan lingkungan belajar untuk adik-adik desa pedalaman?.

Itu juga alasan pertama bagi kami, karena ia tidak pernah bertanya kenapa dia harus rela-rela saja mengajar membaca di pedalaman. Orang bodoh ini ya memang begitu. Jelas-jelas dia bisa malam mingguan di kota, leha-leha di jembatan kuning atau ketawa ketiwi nonton DKI yang di reborn. Kadangkala kami bersyukur, manusia seperti itu tidak menggunakan otaknya, karena jika otaknya bergerak sedikit saja, kesadarnya timbul dan dia akan kompromi untuk soal pengabdian ini. Dan terlebih jauh dari kami, seantero jagad pendidikan dan pemerintah harus berterima kasih yang sebesar-besarnya pada manusia sejenis kawan kami ini, bayangkan jika orang sejenisnya tidak ada. Keberadaan manusia itu tak lebih dari makhluk yang saling menindas.

 

*SANG PETUALANG*.

Sigimbal dari timur, gimbal alami tanpa rekayasa manusia atau bahkan tendensi iklan shampo. Menaeng Ibrahim Beri. Ketua Himpunan Mahasiswa Sosoiologi.  Sang petualang yang datang jauh-jauh dari NTT ke kota Palu. Hanya untuk merokok dan minum kopi di pojokan kampus.

Dalam lirik lagu Sang petualang “seperti lautan engkau bersikap”. Menaeng bagi kami adalah sebuah contoh ketenangan, tetap woles dalam situasi segawat apapun. Pelajaran yang kami petik dari dirinya bukan belajar sabar atau tenang, kami belajar untuk serius dalam sikap, rajin dalam tindak. Lautan walau setenang apapun tetap menyimpan bahaya, sekuat apapun karang akan terkikis oleh ombak. Itu dia Menaeng, Otaknya itu bahaya. Jika orang seperti dia tidak di control dengan baik, ide-idenya mungkin bisa membuat Negara ini siap-siaga.

Menaeng ini bukan gemar jalan-jalan. Hanya sering jalan-jalan. Andaikata belio di culik, lalu di asingkan di sebuah desa terpencil bertahun-tahun, mustahil belio ini mati. Paling rendah jadi kepada desa dia. Blio Orang pengorganisasian loh. Tempatnya “bersama rakyat, bukan dalam kelas”. Katanya entah kapan.

Pak ketua ini, suka lagu regge, penyanyinya siapapun yang penting regge. Sesekali lagu cinta, mengenang kejombloan, tampaknya. Namun karena ini dia sepertinya lupa situasi, kadang dia biggung lagu regge yang harus di nyanyikan di situasi-situasi tertentu. pernah di desa Salubalimbi, donggala, sulteng. Saat itu hujan lebat, saya sedang melihat dua anak bermain bola di lapangan yang berlumpur. Anak-anak itu ketawa, senang gembira, tak ada beban. Dan menaeng nyanyikan lagu bob marley, tepat di samping saya, judulnya One love, liriknya “let’s get together and feel all right. Hear the children crying2x, say give thanks and praise to the lord and I will feel all right”.

Saya ragu kalau dia tahu artinya?. Lagu inikan lebih cocok di nyanyikan kala kita sedang jalan-jalan trus ketemu anak-anak mengemis, atau nangis minta makan. Tapi menaeng tidak begitu, dia tetap khusuk bernyanyi hingga hujan berhenti. Sakral sekali.

*SERDADU*.

Cukup banyak nama yang jadi nominasi di benak kami, namun sepertinya hanya ada satu nama yang cocok. Nur Aida,perempuan, bukan laki-laki. Entah kenapa dia, yang jelas ketegasan dan jiwa militansi melekat pada sosok wanita ini. Itu alasan utama yang tidak bisa di bantah lagi. Dia mengalahkan sekaligus satu battalion laki-laki yang kami tahu, sekaligus. Sifatnya yang bisa dikatakan “tidak ragu-ragu dan tidak main-main” pantas apresiasi.

Jangan salah faham. Walaupun pada dasarnya dia wanita, awas saja, Aida ini singa betina, anda lebih berani mengutamakan kepentingan sendiri di banding orang lain, siap-siap anda di geram. Jagankan manusia, dia bahkan berani melawan Negara.

Dalam kegiatan besar, Untuk urusan perut, wanita ini harus jadi panutan. Satu-satunya nama yang pantas menduduki tahta ratu dapur hanya dia, Keibuan. Bayangkan, wanita mana yang rela mau bangun subuh jam empat sebelum adzan subuh, trus masak nasi sedandang itu baru subuh, belum lagi siang, sore, malam. Belum dihitung ketersediaan air panas kalau-kalau panitia lagi gahar mau minum kopi pagi-pagi.

Pernah mereka melakukan kegiatan, dia pergi satu hari lebih awal. Trus dia kemasukan, setengah badannya mati total. Ajaib, dia sembuh, dan selama lima hari berturut-turut masak nasi, jaga kayu api, masak air. Bukan perkara sepele, tidak semua orang mau. Belum lagi lokasi dapurnya itu bisa dibilang tempat paling gelap dari lokasi kegiatan. Dengan tambahan angker. Keajaiban dia bisa bertahan.

 

*BERIKAN PIJAR MATAHARI*.

Avin Dwiki Putra. Atau Cio. Singkat, tiga kata, hanya C-I-O. entah berasal dari apa, gemar menyanyi, seperti menaeng, hanya saja cio jago main gitar dan menaeng tidak. Jika mereka berdua berkolaborasi dalam satu panggung Cio pasti menyerah duluan, turun panggung sambil gitarnya di lempar-lempar. Suara menaeng ngak merdu-merdu amet, susah jalan bareng dengan petikan gitar cio.

cio ini, ngak pinter-pinter amet, singgel, jika ngak percaya coba Tanya langsung, dia juga sedikit botak. Jarang rambutnya lebih dari 10 cm. Dia adalah benih murni, lahir dan ditempa bukan karena paksaan. Dulu saat hendak di suruh memilih untuk menjadi anggota lembaga dan tidak, ia malah duduk di tengah-tengah. Tapi kenyataanya, dia tidak pernah memilih untuk berada di tengah. Komitmen sudah dia tanamkan bersama kawan-kawannya.

Hanya terikat pada satu lembaga. Walau seriusnya saja harus dipaksakan mati-matian, tapi karena itulah gunanya lakon si Cio, ia bisa menjadikan situasi gawat darurat hanya jadi bahan tertawaan semesta. Karena itulah dia kami mengibaratkan “Pijar Matahari” padanya. Pernah dalam konflik, saat hampir bertarung mati-matian membela nama baik. Manusia ini hanya bernyanyi. Dengan ketawanya yang menggelegar, hingar-bingar sepanjang jalan. Dia tidak pusing.

*KESAKSIAN DAN SANG PENYAKSI*

Ada dua judul yang hampir mirip dengan “kesaksian” saat iwan fals berada di “kantata takwa”. Dan “sang penyaksi” saat iwan fals menyayi solo. Sekiranya, Jika semua orang yang kami tuliskan itu mati. Maka merekalah yang paling cocok sebagai penyaru untuk mereka. Muhammad Idrus dan Ramadhan.

Idrus baru saja memulai karir gondrongnya, rambutnya tidak sepanjang muksin, aida dan menaeng, namun lebih panjang dari Cio. Dan Ramadhan baru saja mengakhiri karir gondrongnya. Dua manusia ini ngambang, kadang ada, kadang hilang, namun mereka nyata lebih ada di banding “penulis” yang wajahnya tak pernah muncul. Jika dilihal mereka tidak punya kemiripan kasat mata. Namun kami, Mata-rajawali dot kom telah berkonsentrasi dengan khusuk. Sehingga timbullah dua nama ini sebagai “sang penyaksi”.

Mengapa kami memilih mereka. Bayangkan jika muksin yang bercerita, pasti akan berlebihan, faham yang dia anut adalah faham kelebihan, termasuk kelebihan kata-kata. Kalau anda mendengar dari menaeng, anda harus siap-siap menuggu kata-perkata yang akan keluar dari mulutnya, selow, seperti slow motion dalam bentuk cerita. Lain lagi kalau Aida, wanita ini adalah gabungan dari keduanya, muksin dan menaeng. Anda mungkin akan terkaget-kaget, kadang gegap gempita kadang selow. Dan kalau cio, sudahlah, anda mungkin lebih memilih menonton grup lawak.

Inilah alasan kami memilih mereka, Kata-kata yang keluar apa adanya. Duka cita terdalam sudah mereka rasakan bersama semua manusia diatas. Sejarah memerlukan Saksi hidup. Seseorang yang menceritakan dengan gamblang kisah mereka agar tidak menjadi dongeng. Namun melegenda, abadi. Saksi hidup memerlukan rekaman hidup. Dan mereka berdualah yang lebih pantas menjadi perekam perjalanan itu. Ini masalah kepercayaan, walaupun Ramadhan alim dan idrus tidak. Ramadhan cepak dan idrus gondrong. Tapi mereka pantas bercerita.

Tidak bermaksud apa-apa. Kami memang melihat mereka memang seperti itu.

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares