5 HAL BERIKUT ANDA BISA TEMUKAN DIFISIP UNTAD.

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

Jika anda berkunjung keuniversitas tadulako dan anda menemukan hal berikut, maka anda sedang tersesat difakultas ilmu sosial dan ilmu politik (Fisip untad).

  1. Saung diskusi.

Setiap jurusan di Fisip Untad memiliki minimal satu tempat berdiskusi, saya sebut saja saung diskusi karena pada tiap-tiap jurusan memiliki nama yang berbeda untuk tiap-tiap saungnya. Namun, terlepas dari persoalan nama, dari sinilah anak-anak Fisip Untad memulai karir intelektualnya. Dulu, sebelum adanya larangan masuk kampus malam hari, dari pagi hari sampai malam, saung-saung itu menjadi saksi bagaimna adrenalin intelektual tercipta dari saung diskusi masing-masing sampai siap uji taji. Tempat bereka berdiskusi memiliki kadar intelektual lebih tinggi dibanding ruangan kelas. Sudah menjadi rahasia umum bahwa saung-saung tersebut berfungsi penuh sebagi perekat solidaritas.

 

  1. Sumber aksi dan solidaritas.

Bukan Fisip namanya jika tidak punya aura kritis, jika mahasiswa baru masuk pada saat kondisi politik Negara, daerah atau birokrat sedang dalam kondisi gawat-gawatnya, aura dramatis kadangkala tercium, bisik-bisik halus kadangkala merambat pelan dari warung kopi sampai warung nasi, Namun kondisi ini menjadi hal terpenting yang dibutuhkan mahasiswa FISIP, dalam teory cheos, tubrukan antara sesama kepentingan akan memicu solidaritas guna memperkokoh kekuatan. Mahasiswa FISIP kebanyakan menilai, Untuk apa terjebak dalam kelas sementara kawan-kawan lain sedang berusaha memperbaiki Negara, menyuarakan suaranya agar terdengar dihingar-bingar politik yang meriah. Ini menjadi tolak ukur, bahwa hampir semua kasus demonstrasi didominasi oleh mahasiswa sadar politik. Kebanyakan menilai, Demonstrasi tidak diperlukan. Namun pernahkan anda menilai dari sisi yang lain, saat perkataan tidak lagi didengar, tulisan-tulisan tidak dilirik dan kode kemarahan tidak digubris, apa yang harus kita lakukan?. Diam?. Banyak yang berkata bahwa “tak perlu demonstrasi, tulis saja, layangkan surat, manfaatkan media atau rapat dengar pendapat”… Omong kosong, FisipPark saja sampai empat artikel ngak digumbris, dengar pendapatpun kadangkala hanya menuai janji.

  1. tidak semua anak fisip itu peduli politik.

Mungkin rancu jika pada bagian dua saya berkata bahwa fisip adalah sumber aksi, namun inilah kenyataanya, mahasiswa FISIP sebagian besar adalah manusia, sebagian kecilnya boneka yang apatis. (emmmm… atau mungkin terbalik). Dalam bahasa umum berarti tidak punya pendirian dan mudah dihasut juga tidak mau berbuat apa-apa, hanya jadi penonton atau bahkan tidak sadar kalau orang-orang disekitarnya sedang membuat sejarah penuh wibawa dan kebanggaan yang akan mereka ceritakan nanti diakhir masa kuliah. Namun itulah yang terjadi, mahasiswa FISIP tak banyak yang sadar, bahwa mereka berperang dalam dunia politik sejak lahir didunia. Dengan berpegang teguh pada, “Buta yang terburuk adalah BUTA POLITIK. Dia tidak mendengar, tidak berbicara dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, dll semua tergantung pada KEPUTUSAN POLITIK. Orang yang BUTA POLITIK begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si Dungu ini tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasinal.”

(Bertolt Brecht – Penyair Jerman)

 

Wahai kaum pembenci politik. Sadar atau tidak dan mau atau tidak. Sejak anda lahir anda sudah celupkan dalam dunia politik, jadi jika anda mengatakan politik itu kotor, maka akuilah, anda juga sudah kotor sejak lahir.

 

  1. Fisip park.

Ini yang paling naas, entah mau bilang apa, jika anda mahasiswa angkatan 90an, anda mungkin kenal nama FisipPark, sejarah FisipPark kebanyakan sudak tidak dikenal lagi, bahkan kami sudah menulis empat artikel tentang FisipPark namun nasibnya tidak jelas mau diapakan, dari Badan eksekutif sampai himpunan mahasiswapun sudah sering mempertanyakan kejelasan pasca pembongkaran FisipPark tersebut namun tidak ada titik terangnya. FisipPark menurut cerita dosen-dosen pernah menjadi pusat pergerakan mahasiswa sekota palu, dan sampai akhir hayatnya, kharisma FisipPark tetap terjuji dengan terpanggilnya lima himpunan mahasiswa Fisip untuk merenovasi bangunan tersebut. Jangan salahkan kami karena titik perjuangan anda dulu kini hilang, kami sudah berusaha.

  1. Pantas dipertanyakan.

Mengapa harus dipertanyakan?, biasanya diakhir atrikel ditulis “pantas diperhitungkan” guna melaggengkan diskriminasi pada dunia dan menarik minat calon mahasiswa baru. Ini hanya serupa pertanyaan, dan pertanyaan ini pantas saya ajukan pada semua mahasiswa yang ada di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Sudah siapkah anda?. Seberapa matangkah anda?.

Jika saya berkata mahaiswa FISIP pantas diperhitungkan namun pada kenyataanya tidak seperti itu, artinya saya suudzon. Untuk itu mahasiswa FISIP sendirilah yang harus menilai diri masing-masing. Dalam artikel ini, meskipun saya juga salah seorang mahasiswa FISIP saya hanya berperan sebagai penulis, bukan sebagai mahasiswa, saya(penulis) menilai diri saya yang satunya(mahasiswa), bahwa saya belum siap dan saya masih harus berbuat banyak, belajar lebih banyak, membantah banyak orang dan menerima banyak kritikan.

Wasalam.

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares