FISIP PARK JILID 4 : KORBAN DIKTATOR

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

Buat apa debat antara pro dan kontra pembongkaran FisipPark. Toh sudah terjadi, yang perlu dilakukan hanyalah menyatukan kekuatan. Bukan mahasiswa vs mahasiswa, bukan rakyat vs rakyat. Jangan mau di kambing hitamkan. Apalagi Dekan baru sudah terpilih, yang dilakukan pertama kali apa?. Agenda memperbaiki apa yang tidak sempat diperbaiki oleh dekan lama ada ngak?, transparan ngak nanti?. Kan sial kalau sampai orang-orang yang datang malah kritisi masalah Fisip. Jangan Cuma dibersihkan setiap sabtu, di bangun kembali dong. Biar lebih efisien. Dulu ada banyak kabar kalau FisipPark akan dibangun taman, tempat diskusi mahasiswa, tempat berguna bagi seantero mahasiswa Fisip. Mana?. Simsalabim . . .  YANG TERJADI . . . kabar buruk, berbulan-bulan tak ada kabar, FisipPark itu kelihatan ngak dimata birokrasi?. Atau hanya roh bangunan dimana orang-orang tertentu saja yang bisa lihat?. Alhasil lembaga legistatif mahasiswa harus melakukan pemilihan suara di depan WC.

Disuruh pinda dilokasi yang jauh dari pemukiman lalulalang mahasiswa. untug-untungan ada 100 orang yang mau rela panas-panasan nyoblos.

Dulu FisipPark yang di bangun diatas keringat mahasiswa sendiri. sebelum pembongkaran mahasiswa bahu membahu menrenovasi, tapi apa?. TIDAK DIBERIKAN KESEMPATAN, ada sih, sebentar, mepet waktunya. Ada perbedaan yang jelas antara FisipPark yang dibangun diatas keringan mahasiswa dan FisipPark yang dibangun oleh birokrasi. Tidak ada nilai sejarahnya, malah hanya jadi kesempatan korupsi, seperti WC. Banyak isunya beredar. Apalagi sekarang banyak sedang masa pergantian ketua, dari ketua fakultas sampai ketua lembaga. Kan baik jika programnya yang telah disusun dibeberkan ke mahasiswa agar mahasiswa bisa menilai.

Jangan sampai ada anggapan karena dekan dipilih senat dosen, ya itu dekannya dosen, bukan dekannya mahasiswa. Jika semua mahasiswa berfikir begitu. Apa yang terjadi?. Fikiran paling liar adalah Pendudukan Mahasiswa pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu politik Universitas Tadulako hanya karena FisipPark dibongkar dan tidak dibagun kembali.

Jangan marah kalau diprotes mahasiswa, ini tanda cinta pada Fakultas. Kalau kami diam saja nanti dibilang kayu. Protes dibilang sok jago. Kau ini bagaimana kata gus mus. Atau aku harus dilema?. Kata saya.

Ini bukan untuk buat malu fakultas, tapi untuk memberitahu biar semua orang tahu. Diberitahu di rapat percuma. Di dengar sih didengar. Sebatas dengar. Kamipun hanya sebatas Doa agar bapak-bapak yang terhormat mendengar paling tidak membaca keluhan kami. Karena mau marah-marah di depan bapak pun percuma, bapak sudah tua, harusnya sudah cukup paham arti sakit hati dan kami pun tahu diri untuk tidak berteriak-teriak menuntut bapak menjalankan tugas yang harusnya sudah di laksanakan walau hanya sebatas wacana.

Mahasiswa ini apatis loh pak. Pendengarannya masih dalam ambang normal, dijanji palsu aja mereka mau. Apalagi ditambah kalimat pendukung semisal “pasti kami akan bangun kembali, menjadi sesuatu yang lebih baik, doakan agar pembangunannya lancar tanpa hambatan. Insyaallah”. Enak kan ditelinga, mahasiswa tinggal menunggu, menuggu dan menuggu tanpa ada kejelasan. Tunda-tunda aja pembangunannya. Biar marah makin menumpuk, anarki mungkin tidak terbendung. Dalam kondisi gawat, marah dan darurat biasa terjadi loh pak.

Biarin dibilang sok jago. Yang penting bukan dibilang pecundang. Cuma berani bicara dibelakang. Ini juga suara masal, dalam hati mahasiswa marah-marah menyaksikan pembongkaran, ada pula yang sedih. Tapi mulut kami diam berharap Bapak lebih tahu yang terbaik untuk kami. Sesaat kami mengira anda itu Tuhan loh pak.

Ini kesekian kalinya fisip park di gugat. Kasihan FisipPark jadi anak tiri. Sudah hancur malah dibiarkan.

Seperti tiga artikel sebelumya, SOP dalam penulisan ini juga hanya tiga, Gugat-Gugat-Gugat. Selesai. Kalau dibangun kembali ya alhamdulillah, rumput Fisip yang panjang-panjang lagi dimarah-marah, atau kipas angin yang diam dimaki-maki. panasnya dalam kelas itu naudzubillah loh pak. bapak ngak rasa ya?.

Inikan demi kebaikan bersama, bukan demi kebaikan segelintir manusia. Kalau kondisi lingkungannya saja jelek, injeksi dari kemata keotak juga jelek, tembus kehati melalui mulut dan kerongkongan sebagai jalan pintas, megunpat sebagai pelaksananya. Masuk lingkungan belajar saja sudah ada pemandangan seperti bekas dibombardir begitu. Pas masuk kelas kipas angin mati, panas lagi ruangannya belum lagi infocus yang aduhai jual mahal. Pilihan mahasiswa hanya dua. Bertanya dan membuat suhu panas sampai diotak atau diam dengan resiko dibilang kayu dan batu, ditanam lalu subur beranak pinang. Ya kita pilih diam lah, kalau panas sampai diotak, bisa jadi mahasiswa vs mahasiswa akibat sebuah pertanyaan, tragedi yang kami hindari bersama. Untuk itulah banyak mahasiswa (termasuk saya sendiri) yang sering pakai baju kaos dan sendal jepit supaya kaki segar melangkah. Juga terhindar dari “panas dalam” ruangan dimana “adem sari” tidak bisa berbuat banyak. Kadangkala celana digulung mirip orang-orangan sawah. Yang salah siapa?. Bukan salah kami dong. Masa kami yang salah. Kewajiban kok diluar batas kemampuan kami, mahasiswa yang lemah ini.

Aturan sih aturan, hak dipenuhi juga dong. Bukan janji yang dipenuhi. Nanti seperti freemason, kakak tertua dari kapitalisme yang jaya dengan propaganda.

Mungkin artikel sebelumnya tidak pernah sampai pada bapak-bapak terhormat. Ya iyalah, mana mau sampai kalau mahasiswa dan pimpinanya kucing-kucingan. Ketemu nanti dalam kelas atau papasan dijalan, itupun kami tunduk atau pura-pura buta.

mungkin karena Stratifikasi sosial. apalah daya kami mahasiswa kasta rendahan. sadar atau tidak, kita ini seperti yang Erving Goffman katakan loh atau panggung sandiwara kalau kata Nike ardila. bapak kan orang sosial, pasti lebih tahu dong ya.

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

2 tanggapan untuk “FISIP PARK JILID 4 : KORBAN DIKTATOR

  • Januari 18, 2017 pada 1:24 pm
    Permalink

    sebaiknya harus ada solusi untuk masalah yang sedang dihadapi. Namun, solusi tersebut jangan sampai merugikan salah satu pihak. FISIK PARK memang hasil jerih payah mahasiswa, setidaknya ada rasa ingin mempertahankan agar tidak jatuh.

    Balas
    • Februari 15, 2017 pada 2:36 pm
      Permalink

      saat hari dimana jatuhnya fisip park sudah merupakan kesalahan fatal oleh birokrasi fakultas. Jika berfikir tentang solusi yang tidak merugikan sebelah pihak, maka saat pembongkaran fisip park itu apakah keputusan tersebut tidak merugikan mahasiswa?.
      lihat sekarang, fisip park jadi tempat paling jorok!!!.

      Fisip park kami pertahankan sampai akhir lima himpunan mahasiswa berkumpul karena Fisip park.
      dan saya memendam marah yang banyak.

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares