International Woman Day dan kaum perempuan di sektor agraria

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

PRESS RELEASE

Rentang sejarah perjalanan bangsa-bangsa di dunia hingga mencapai fase paling mutakhir sekarang ini diwarnai derita perempuan. Fakta ini tidak bisa dibantah karena sejarah pula yang menjelaskannya. Meski demikian, tanpa lelah kaum perempuan terus berupaya memperjuangan keadilan atas kedudukan mereka di dalam struktur sosial, di sektor domestik maupun di sektor publik. Dengan pengorbanan yang sangat besar, perjuangan kaum perempuan telah memperoleh hasil yang cukup gemilang. Hampir setiap bidang hidup, kaum perempuan-perempuan di berbagai belahan dunia telah mendapatkan tempat yang layak, meski secara kuantitas masih terbatas.

Tanggal 8 maret adalah salah satu momentum terpenting bagi kaum perempuan, karena ketika itu di tahun 1917 telah terjadi gerakan massa yang teroganisir pertama yang memperjuangkan hak perempuan di Petrograd yang kemudian memicu terjadinya Revolusi Rusia. Peristiwa bersejarah tersebut merupakan penanda sejarah, bahwa perempuan terorganisir dapat mendorong revolusi, juga memastikan persatuan kaum perempuan dapat menjadi kunci gerbang revolusi, yang tidak kalah dengan kaum laki-laki. Peristiwa monumental yang diperingati sebagai IWD “International Women Day” tersebut sudah semestinya menjadi pemicu semangat kaum perempuan maupun laki-laki di zaman serba maju saat ini untuk membangun sistem sosial baru yang berkeadilan gender pada semua sektor kehidupan. Keberhasilan-keberhasilan yang telah dicapai oleh sebagian kaum perempuan yang telah menduduki sektor-sektor Jasa strategis di pentas politik, di pemerintahan, dalam dunia usaha, dan lainnya telah mengangkat derajat dan martabat perempuan secara signifikan pada skala global. Akan tetapi, di sektor riel kaum perempuan masih berhadapan dengan kemiskinan yang menggurita.

Kemiskinan keluarga kaum tani di wilayah-wilayah perdesaan di Indonesia masih sangat tinggi, dan beririsan langsung dengan kondisi kaum perempuan. Petani-petani gurem umumnya hanya memiliki luas lahan garapan tidak kurang dari 0,5 ha, bahkan sebagiannya sama sekali tidak memiliki tanah. Dalam kondisi yang demikian, kaum perempuanlah yang harus menanggung derita berlipat karena peran ganda yang harus dipikulnya. Di sektor domestik mereka harus mengurus keluarga (suami, anak, dan rumah), di sektor publik mereka (baik sebagai ibu maupun anak perempuan) juga mengurus kebun, sawah, ladang, bahkan menjadi buruh tani untuk menopang hidup yang serba terhimpit. Sementara itu ekspansi kapitalisme di sektor perkebunan semakin massif, tanah-tanah garapan kaum tani dalam jumlah yang semakin besar terampas oleh perusahan-perusahaan perkebunan besar yang mengantongi izin dari pemerintah. Ibarat sebuah proses pemiskinan yang dilegalkan negara, juga dapat disebut proses pemenjaraan kaum perempuan dalam ruang derita yang sama sepanjang zaman.

Maka, semangat Peringatan Hari Perempuan Sedunia sekarang dan kemudian, harus dilandasi dan didorong menuju sebuah gerakan revolusioner kaum perempuan menuju Keadilan Agraria berbasis Kesetaraan Gender.

Salam Kesetaraan…! Bangkitlah Perempuan…! Jayalah kaum perempuan…!

Palu, 08 Maret 2017

Noval A. Saputra

Koordinator Konsorsium Pembaruan Agraria Wilayah Sulawesi Tengah (KPA-Sulteng)

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares