BELAJAR DARI THE MOCKINGJAY, TEKNIK PROPAGANDA MEDIA.

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

Sebelum anda membaca sampai pada paragraf terakhir , sebagai penulis kami memohon maaf yang sebesar besarnya. Dan berharap anda menyesal telah membaca. Disamping itu, besar harapan kami anda mengklik iklan kami agar kami dapat mendapatkan semangat dalam menghina anda sekalian. Amin.

Sebagai mahluk bodoh yang memiliki pengetahuan standar dan suka bertengkar. Juga sebagai spesies sempurna yang mencintai Filosofi hidup dengan kata-kata luarbiasa tanpa mau bekerja keras. Maka pantaslah dizaman yang kebanyakan makan micin ini, manusia harus malu, semalu-malunya. Menutup diri seperti menutup kemaluan tanpa mau berkontribusi pada kehidupan sosial. Eksis pada dunia maya, aklamasi lewat status, namun apatis didunianya. Menyebar aib kebencian seperti menebar pusar serta menggoyang pantat erotis dimedia. Dan juga, sebagai seonggok daging hina yang merasa diri terhormat dihadapan jutaan manusia melalui media sebagai alat propaganda, malu dengan kemaluan kecil hingga harus mempropagandakan berbagaihal hanya untuk dianggap sebagai dewa. Ironis.

Terinspirasi dari seorang teman yang bercerita tentang cerita temannya tentang temannya-temannya yang skripsinya ditolak karena mengajukan judul dengan niat memperbaiki media di lingkungan studinya. Maka terciptalah artikel ini sebagai wujud protes atas kebodohan mereka yang tidak menggunakan telinganya untuk memperbaiki lingkup media dari akar-akarnya.

”Media dalam eksistensinya sebagai kontribusi penyaluran informasi kini menjadi alat menuju status ke-dewa-an”. Mungkin argumen kami tersebut bisa dengan mudah dibantahkan, namun, dengan melihat fakta bahwa beberapa media besar terutama televisi yang memiliki dokrinitas ter oke pada pemirsanya cenderung dikuasai oleh elit. Bagaimana tidak, pemilik media tersebut adalah mereka yang menyadari bahwa menguasai media informasi merupakan keuntungan besar, yang unjung-ujungnya mengarah pada pemilihan kekuasaan. Inti dari pembahasan ini adalah pencitraan. Kami harap anda mengerti. Kami tidak ingin membahas panjang lebar hal yang sudah umun diketahui oleh manusia sejagad yang katanya intelektuil ini. Karena sasaran kami adalah anda, mahasiswa yang memiliki pengetahuan lebih atas media, dibanding mahasiswa lain. dengan gelar mahanya yang diam-diam saja.

Bagi anda yang pernah menonton film The divergent dan The Hunger Games. Mockingjay. Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari film tersebut. Salah satunya adalah propaganda media, bagaimana media dengan sangat rapi mempropagandakan hal-hal yang membangkitkan semangat lewat wanita Mockingjay sebagai aktor utama. Begitu pula sebaliknya, hal itu di beberkan dengan gamblang bagaimana media mempengaruhi hati dan pikiran pemuda-pemudi bangsa yang kebanyakan nonton anime, drama korea dan bokep ini.

Jika diperhatikan lebih jauh, Peeta sebagai pemeran dalam film selalu mempertanyakan kenyataan dan kepalsuan. Hal inilah yang patut menjadi perhatian penuh, bagaimana media merekonstruksi fakta sehingga pemirsa sulit memilah mana yang asli dan rekayasa. Seperti dalam teori dramaturgi, tentang panggung belakang dan panggung depan tiap individu. Begitu pula media, sekiranya memliki konsep belakang panggung yang bertugas menjadikan seseorang sebagai sang dewa-dewi dunia. Tak perlu contoh yang jauh, coba share di google nama ahok dan jokowi. Banyak pertentangan tentang baik dan buruknya mereka. Entah mana yang benar, semua kembali ke awal. Dimana penguasaan media adalah harga mati untuk pencitraan yang baik didepan publik.

Walaupun diakhir film diakhiri dengan romansa. Setidaknya dunia ini terlahir dengan cinta dan berjalan dengan sedikit damai karena cinta. Maka mari mencintai. J

Sekarang ini tugas siapa?. Sebagian besar hak kebenaran informasi ditutup-tutupi. Objektivitas jurnalis sedang dipertanyakan. Jangan sampai seperti kata Hunter Thompson, Bill Moyers dan David Brinkley menyebut objektivitas jurnalis sebagai mitos. Dalam buku agenda setting media massa yang ditulis oleh Apriadi Tamburaka halaman 126 disebutkan demikian.

Mahasiswa ini adalah benih paling murni dari badan politik negara. Mahluk baik yang membayar mahal untuk sekedar cerdas namun diam saat ditindas. Bebas belajar apapun tanpa indikasi politik, melihat yang salah dan memperbaiki. Namun hanya diberi sedikit ruang gerak, dikekang pula tak bebas berekspresi. Jika saja setiap cabang ilmu mahasiswa mau berkontribusi dan memantau perkembagan bidang masing-masing, negara ini akan baik-baik saja. Ini bukan kesalahan Negara lagi, ini kesalahan mahasiswanya yang diam-diam saja haknya di injak-injak. TOLOL. Berhenti salahkan negara, anda bagian yang ada didalamnya. Kegoblokan anda, jiwa apatis andalah yang merusak negara ini.

hal ini mendorong kami untuk mengeluarka fatwah, seperti MUI.

 bahwa sesungguhnya pengemis dijalan lebih bertanggung jawab atas tugasnya, yang memberikan doa pada yang memberinya nafkah walau 100 rupiah dibanding mahasiswa yang memiliki pengetahuan namun hanya diam saja sembari berprinsip kalau pendidikannya untuk masa depannya sendiri dan tidak memikirkan orang banyak… sungguh EGOIS. Ironis memang.

Pertanyaan paling umunnya seperti ini. Media informasi itu apa?. Untuk siapa?. Bagaimana harusnya dijalankan?. Kalau tidak berjalan semestinya harus bagaimana?.

Saat negara ini hacur dari politiknya maka habislah rakyatnya menjelma serigala. Jika ketetapan harga beras Rp 10.000-. per butir. Semua diatur politik.

Maka dikatakanlah mahasiswa itu Agent Of Change. Agen perubahan, betul-betul berubah mahasiswa sekarang dibanding zaman purbakala. Dahulu mahasiswa ibarat kerumunan banteng, semakin ditundukkan maka semakin tertuju tanduknya menghantam tameng barisan penguasa. Sekarang. Semakin dibebaskan semakin buta matanya.

Betul-betul perubahan. Perubahan pola gerakan mahasiswa. Apatis, mati saja kau. Gali kuburmu, tanam dirimu sendiri.

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares