GARUDA DIUJUNG TANDUK

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

Dalam gelanggang kenegaraan dimana pancasila sebagai sebuah keputusan final tertera “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” adalah Keputusan sejarah yang harus dihormati seluruh rakyat, kini tidak lagi menadi dalam kicauan kenegaraan.

Apakah giwang Garuda harus tergantung di telinga setiap orang Indonesia, sebagai pengingat bahwa kita sama-sama manusia dan keadilan sosial itu bagian dari pancasila.

Perang antara mereka, para pemengang kuasa dan mereka para jelata, Orang yang mempertahankan kebenaran. Sama-sama benar. Pemuda hari ini telah mejelma menjadi pemuda cinta masalah. Menjadikan Indonesia sebagai Negara multi masalah yang multi kultur.

Kebenaran ada didapur pikiran dan hati masing-masing. Tapi kebenaran itu bukan kebenaran sejati. Tafsir kebenaran anda beda dengan tafsir saya”. Sepertinya kita harus berhenti mencari siapa yang salah, bagi mereka yang kita tuduh salah, mereka juga menuduh kita salah.

Mencari apa yang salah dan apa yang benar. Mempertentangkan siapa yang salah dan benar tidak menemukan pembuktian, namun menentukan siapa yang menang dan kalah. Kebenaran bukan soal kompetisi. Kalau Hidup itu mengalahkan diri sendiri”. Emha Ainun Najib di sebuah stasiun Tv jam 11 malam, tanggal 23 mei.

Bagaimana jika semua manusia, termasuk kepolisian, masyarakat dan para pemegang tampuk kekuasaan berlomba-lomba dalam sebuah kompetisi untuk menyeimbangkan segala sesuatu disemua sisi kehidupan?. Daripada memamerkan kebenaran masing-masing yang pasti tak hakiki.

Jika kita makan nasi ya rasa nasi, makan ketupat ya rasa ketupat, meskipun anak kos sering makan nasi putih sambil pelototin ayam goreng, nasi ya tetap nasi. Menyangkal sekuat apapun soal rasa, lidah ngak pernah bohong.

Masih di stasiun Tv yang sama, NKRI merdeka tuh kan dibayar tunai, maharnya proklamasi, pernikahannya sakral.

Soal penggusuran yang ada di Luwuk, ini bukan lagi soal biasa. Penggusuran dan tragedi kemanusiaan di palestina juga Myanmar adalah persoalan kemanusiaan. Tak bias dipungkiri. Walau aliran kiri berjuang mati-matian membela mereka yang tertindas dan kepolisian mati-matian dengan pagar betisnya, manusia ya manusia, serigala ya serigala, walau kadang homo homuni lupus.

Ketika Negara tidak memperhitungkan lagi hak kemanusiaan, maka Negara harus ingat, syarat terbentunya Negara adalah Rakyat, ini sebuah unsur Konstitutif. Tidak mungkin Negara tanpa rakyat. Rakyat yang menderita di tanah sendiri adalah aib bagi Negara itu sendiri, rakyat yang tersenyum di depan penguasa namun dibelakang mengatur gerakan bawah tanah artinya Negara dalam ancaman besar. Rakyat yang tak hormat lagi pada satuan pengaman dan ketertiban masyarakat maka Negara harus ingat, bahwa telah banyak daerah yang hendak memisahkan diri dari NKRI. Ini adalah sebuah dialog, “bagaimana rasa ketidak puasan rakyat terhadapt Negara”. Berhenti menyalahkan pihak ketiga yang hendak memecah belah kesatuan Negara, kesalahan ada dalam tubuh sendiri. bagaimana mengatur jalannya roda kenegaraan dengan ban bocor dan kemudi yang bengkok?. Korupsi, nepotisme dan banyak lagi. Jika protes akan di tangkap. Mereka yang ingin membenah rasa kebangsaan menjadi lebih baik malah di hilangkan, tak akan ada perubahan tanpa pergerakan.

Percaya atau tidak, Negara sedang dalam masa juang. Negera tidak akan pernah merdeka tanpa bantuan Rakyatnya, Negara harus berterima kasih untuk itu. Hari ini bukan lagi Rakyat Vs Rakyat, tapi rakyat Vs pemerintahan yang zalim. Makanya jangan heran jika ada banyak oposisi.

Maka benarlah kata Bung Karno, perjuanganku akan lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.

Presiden sudah merakyat, dan rakyat kagum akan itu, tinggal mereka yang ada dibawah presiden lagi yang harus tahu diri.

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares