NADIYA, KEMARIN KU CARI KAMU. KAU BERDIRI DIBARISAN MANA?.

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

“Orang Kiri adalah mereka jang menghendaki perobahan kekuasaan kapitalis, imperialis jang ada sekarang. Kehendak untuk menjebarkan keadilan sosial adalah kiri. Ia tidak perlu Komunis. Orang kiri bahkan dapat bertjektjok dengan orang Komunis. Kiriphobi, penjakit takut akan tjita-tjita kiri, adalah penjakit jang kutentang habis-habisan seperti Islamophobi. Nasionalisme tanpa keadilan sosial mendjadi nihilisme.”Soekarno dalam Cindy Adams (1966:100)

Nadiya, kukira kita harus berhenti memaklumi penguasa, mereka seperti anak-anak manja, semakin diberi, semakin menjadi. Nadiya, kukira kau sudah tahu bahwa kita sedang dalam bahaya, setiap kepala di negara ini diancam bahaya yang sama dan kuharap kau tidak sedang berdiri di zona aman dengan bersikap netral, mungkin begitu kata Najwa. Yah, Najwa gampang saja berkata seperti itu Nadiya, bagi yang terpesona akan bertepuk tangan paling keras, namun bagi yang tahu konsekwensi tentu akan diam saja sembari menggingat, bahwa bersuara berarti memancing bahaya. Kaupun bisa mengeluarkan statemen seperti itu jika mau. Namun, kuyakin kau sangat sadar kalau suara-suara kita sedang di bungkam, leher-leher kita di ikat oleh rantai dan kaki-kaki kita dibelenggu. Nadiya, pembagunan selalu menuai Korban, mereka yang mati disalahkan, mereka yang bero(n)tak menuntut haknya akan di masukkan ke jeruji, lantas menjadi penjahat sejarah. Dan kita berdiri dalam barisan-barisan demonstrasi membela orang-orang ini, berbekal nama keadilan, data seadanya dan semangat sekedarnya. Bukankah kita juga menanggung resiko yang sama, Nadiya?.

Namun kita harus apa?. Aktivis-aktivis saling meneguhkan posisi antara benar dan salah antar sesamanya, mahasiswa-mahasiswa saling ancam karena kepentingan, pemuda-pemudi lainnya asik onani dengan barang-barang baru, brand-brand ngetop yang tak pernah habis hingga akhir zaman. Apa lagi yang harus kita lakukan Nadiya?. Pemakluman sifat pesimis semacam ini mengerikan, kita tahu itu, tulisan-tulisan tak terbaca, koran-korang diduduki penguasa, tv dipenuhi acara tak berguna. Kita harus bagaimana Nadiya?. Apakah kita harus diam dan berdamai dengan keadaan?.

Nadiya, tampaknya perlu ada perbaikan tata generasi disini, atau penghancuran total jika revolusi gagal, harus ada yang bertindak Nadiya, harus ada yang bergolak pertama kali.

Nadiya, apakah hanya karena kita berbeda suku, agama atau ras maka kita adalah musuh?. Jika saja Iya, maka apakah mungkin dengan warna darah kita yang sama maka kita adalah saudara?.

Nadiya, kau mahasiswa, bukan?. bukankah kau harusnya mewakili eksistensi perempuan dalam gerakan feminim yang masih bertahan. Nadiya, kukira kau bukan perempuan yang “sah-sah saja untuk selfi” atau “sah-sah saja untuk bergosip”. Kukira kau perempuan yang tak akan meramaikan linimasa dengan wajahmu yang jelita. Atau kau mungkin bukan wanita yang suka debat antar feminis dan maskulin dengan segala turunannya, mulai dari feminis radikal sampai feminis apalah namanya, yang berujung pada perang posisi hingga bakuhantam kolektif sana-sini. Mungkin juga kau feminis suci sejak dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Atau bisa saja kau berkarakter GERWANI, semacam itulah. Entahlah Nadiya. Perempuan-perempuan zaman ini termakan usia sebelum waktunya.

Zaman berganti rupa, Feodalismepuun oprasi plastik menjadi borjuisme, kekuasaan politik telah didominasi kepentingan, hanya segelintir lapisan ekonomi kelas atas. Rakyat hanya memperoleh kebebasan yang sedikit-demi sedikit di cekal, sembari itu persamaan dan persaudaraan cuma menjadi slogan perang dimana-mana Nadiya. Jika saja kau, wanita berhijab berani menyuarakan dengan lantang di jalan-jalan ibu kota tentang rezim yang dibaluri kedzaliman tentang manusia yang tak lagi ber prikemanusiaan. Mungkin saja seluruh wanita akan spontan bergerak berdiri di sampingmu. Tapi nadiya. Kau berdiri di sayap mana?. Kiri kah?. Kanan kah?. Atau kau tak memihak, mengutamakan kepentinganmu atas sorga, Nadiya?. Apakah dengan mengetahui kedzaliman namun membiarkan kedzaliman itu terus berjalan tidaklah menjadi dosa?.

Entahlah Nadiya, aku tak tahu banyak soal agama.

bagikan pada yang lain . . . ! ! !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares